Opini & Budaya

Aku Telah Melihat Allah

Yohanes 20: 11-18

Magang Dua | Sabtu, 15 April 2017 - 10:11:59 WIB | dibaca: 45 pembaca

Hari Persiapan Paskah

Yesus memasuki Yerusalem dengan menyadari dua respons yang akan Dia terima. Rasa benci dan kasih dari orang-orang sekelilingnya (lihat perumpamaan uang mina dalam Lukas 19:11-27). Setelah Yesus mengajarkan perumpamaan itu Dia memasuki Yerusalem yang disambut dengan meriah oleh penduduk Yerusalem (Lukas 19: 32-38). Lalu tidak lama setelah itu Dia meratap dan menubuatkan kehancuran Yerusalem (Lukas 19: 41-44), menyucikan bait Allah (Lukas 19: 45-46), dan mengajar di bait Allah (Lukas 19:47). Hal ini membuat para imam kepala dan ahli Taurat serta orang-orang terkemuka bangsa Israel sangat ingin membinasakan Yesus (Lukas 19: 47-48). Memasuki masa sengsara Yesus dan puncaknya pada penyaliban-Nya, rasa benci semakin memuncak. 

Yesus memasuki Yerusalem pada hari Minggu atau tepatnya lima hari sebelum Paskah (Yoh 12:1,12) yang biasanya kita peringati sebagai Palm Sunday. Paskah orang Yahudi bertepatan dengan hari raya Roti Tidak Beragi yang jatuh pada tanggal 14 Nisan kalender Yahudi sesuai dengan Hukum Taurat dalam kitab Keluaran 12:5-6,18. Matius mencatat, “Pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi datanglah murid-murid Yesus kepada-Nya dan berkata: "Di mana Engkau kehendaki kami mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?" (Matius 26:17). Lukas juga mencatat, “Maka tibalah hari raya Roti Tidak Beragi, yaitu hari di mana orang harus menyembelih domba Paskah. Lalu Yesus menyuruh Petrus dan Yohanes, kata-Nya: "Pergilah, persiapkanlah perjamuan Paskah bagi kita supaya kita makan.” (Lukas 22:7-8)

Hari di mana Yesus merayakan Perjamuan Terakhir merupakan hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi (Matius 26:17, Markus 14:12, Lukas 22:7) yaitu tanggal 14 Nisan dalam kalender Yahudi dan pada tanggal 14 Nisan pula Anak Domba Paskah disembelih.

Keluaran 12:18, “Dalam bulan pertama, pada hari yang ke-14 bulan itu pada waktu petang (sorenya), kamu makanlah roti yang tidak beragi, sampai kepada hari yang ke-21 bulan itu, pada waktu petang.

Keluaran 12:5 – 6, “Anak dombamu itu harus jantan, tidak bercela, berumur setahun; kamu boleh ambil domba atau kambing. Kamu harus mengurungnya sampai hari ke-14 bulan ini; lalu seluruh jemaah Israel yang berkumpul, harus menyembelihnya pada waktu senja.”

Yesus mengadakan Perjamuan Terakhir pada tanggal 14 Nisan hari pertama di mana roti tak beragi sudah dimakan, hari di mana Anak Domba Paskah harus disembelih, yaitu pada hari yang disebut "hari persiapan," dan Yesus mengadakan Perjamuan Terakhir itu pada awal tanggal itu atau tanggal 14 Nisan malam harinya. Kita mesti mengingat bahwa penanggalan Yahudi, malam hari jam 6 sore atau ketika matahari terbenam adalah waktu pergantian hari dan saat itu masih menggunakan roti beragi, mengapa? Karena roti tak beragi barulah dimakan pada akhir tanggal 14 yaitu petang atau sore harinya atau ketika sudah beranjak masuk tanggal 15 Nisan-nya. Kita lihat Imamat 23:6, “Dan pada hari yang ke-15 bulan itu ada hari raya Roti Tidak Beragi bagi TUHAN; tujuh hari lamanya kamu harus makan roti yang tidak beragi.” Hal ini sejalan dengan Yohanes 19:31, “Karena hari itu hari persiapan dan supaya pada hari Sabat mayat-mayat itu tidak tinggal tergantung pada kayu salib sebab Sabat itu adalah hari yang besar maka datanglah orang-orang Yahudi kepada Pilatus dan meminta kepadanya supaya kaki orang-orang itu dipatahkan dan mayat-mayatnya diturunkan.”

Tanggal 14 Nisan yang dimulai dari hari Kamis sore sampai Jumat sore harinya (hari Sabat) merupakan hari persiapan hari raya Roti Tidak Beragi sehingga roti tidak beragi baru dimakan pada sore hari tanggal 14 Nisan atau hari Jumatnya dan Anak Domba Paskah harus disembelih. Jadi, memang hari Jumat tanggal 14 Nisan ketika Yesus dihakimi dan disalib itu adalah "hari persiapan Paskah" sebagaimana yang dikatakan Injil Yohanes bahwa Sabtu setelah penyaliban Yesus itu disebut Sabat Besar (di mulai Jumat sore sampai Sabtu sore) karena bertepatan dengan hari pertama Perayaan Paskah (yang dimulai dengan persiapan Paskah pada tanggal 14 dan 15 Nisan-nya merupakan hari pertama Perayaan Paskah). Yohanes 19:14, “Hari itu ialah hari Persiapan Paskah, kira-kira jam dua belas. Kata Pilatus kepada orang-orang Yahudi itu: "Inilah rajamu!"

Salib

Yesus meratapi Yerusalem yang akan binasa sampai tidak ada satu batu pun yang tersusun tapi ironisnya mata mereka tertutup akan hal itu. Dibenci oleh banyak orang dan tangisan kepada mereka yang membencinya sungguh peluh di dalam batin. Meskipun demikian, Yesus tetap mengajari mereka tentang kebenaran dan menangisi kegelapan mereka. Itulah kasih seperti yang Dia ajarkan, “Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?” (Matius 5:43-46). 

Yesus tidak gentar di tengah himpitan kebencian musuh. Dia tetap membersihkan bait Allah dari sarang penyamun. Dia tetap mengajar di sana dan seluruh rakyat mendengarkan-Nya. Dia tidak takut kebencian dan kasih menaklukkannya. Yohanes, satu murid-Nya, mengajarkan, “Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barang siapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih” (1 Yohanes 4:18). Walaupun diancam, jalan salib yang sangat menyiksa, pengkhianatan, serta paku salib yang besar itu akan menancap tangan kaki-Nya, Yesus tidak gentar karena dia punya kasih yang sempurna dan teramat besar bagi kita.

Kasih di tengah himpitan kebencian itulah masa sengsara Yesus yang pada puncaknya pada penyaliban. Salib mengandung kasih yang mengalahkan kebencian. Salib adalah lambang kebencian yang memuncak yang ditumpahkan keluar sampai di luar batas kemanusiaan namun Kasih Yesus yang tanpa batas dapat menampung dan membersihkannya untuk selamanya. Salib lambang kebencian yang dikalahkan kasih. Salib lambang dosa yang dikalahkan oleh Yesus. Salib lambang kematian karena kasih untuk membawa manusia pada kehidupan. Dia mengasihi para musuh dan tidak takut sekalipun Dia mengorbankan nyawa-Nya. Itulah kasih Kristus seperti kata Yohanes (1 Yohanes 3:16). 

Lambang salib sekarang melekat pada diri kita sehingga kita pun wajib memikul salib (Lukas 14:37). Artinya kenakanlah kasih selalu walaupun kebencian menghimpit kita. Yohanes menyatakan, “Janganlah kamu heran, saudara-saudara, apabila dunia membenci kamu. Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut (1 Yohanes 3:13-14). Jalanlah lewat jalan salib sampai tuntas walaupun menyesakkan dan sempit karena di situlah ada kemenangan terhadap dosa. Mari kita ikut Yesus yang sudah menyelesaikan jalan tersebut karena Dialah jalan dan kebenaran sehingga kita percaya jalan yang dia lalui walaupun sesak dan berat tapi menuju pada kehidupan. Yakinlah apa yang dikatakan karena Dialah kebenaran dan firman-Nya adalah yang final dan ultimate (Ibrani 1:1-4). Sehingga marilah kita ikuti Firman Yesus, “Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya” (Matius 7:13-14).

Tiga Hari Tiga Malam

Yesus disalib pada hari Jumat tanggal 14 Nisan menurut kalender Yahudi yang disebut sebagai “hari Persiapan Paskah.” Kematian-Nya di atas kayu salib terjadi pada hari Jumat jam tiga sore (Markus 15:33-34). Dan seperti tanda Yunus yang tinggal di dalam perut ikan besar tiga hari tiga malam, demikian juga Yesus akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam dan sesudah itu Dia akan bangkit (Matius 12:40; lihat juga Matius 16:21; 17:22; 20:19; Markus 8:31; 9:31; 10:34; Lukas 9:2; 18:33). Yesus berulang kali menubuatkan bahwa Dia akan dibangkitkan pada hari ketiga setelah kematian-Nya yang jatuh pada hari Minggu sebagai hari pertama dalam satu minggu.

Bagaimana bisa jatuh pada hari Minggu? Bukankah Dia wafat pada hari Jumat sore? Kita harus memahami bahwa istilah tiga hari tiga malam bukanlah istilah dalam pengertian bahasa kita seperti 24 jam penuh. Frasa “tiga hari tiga malam” yang dipakai adalah “τρεῖς ἡμέρας καὶ τρεῖς νύκτας (TREIS HEMERAS KAI TREIS NUKTAS). Kata HEMERAS dalam pengertian aslinya adalah periode waktu antara matahari terbit sampai matahari terbenam atau ketika terang matahari menyinari bumi. Dalam Kitab Kejadian juga kita bisa melihat pendefinisian kitab suci apa yang dimaksud dengan kata "hari" dan apa yang dimaksud dengan kata "malam."

Kejadian 1 : 5 וַיִּקְרָ֨א אֱלֹהִ֤ים ׀ לָאֹור֙ יֹ֔ום וְלַחֹ֖שֶׁךְ קָ֣רָא לָ֑יְלָה וַֽיְהִי־עֶ֥רֶב וַֽיְהִי־בֹ֖קֶר יֹ֥ום אֶחָֽד׃ פ (wayiqra' Elohim la'owr yowm welachoshekh qara laylah wayehi-erev wayehi-voqer yowm echad)

Wayiqra Elohim la'owr yowm, Dan Allah menyebut terang itu hari (Yowm),welachoshekh qara laylah, Dan gelap itu malam (Laylah). Atau yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan : God called the light “day,” and the darkness he called “night.” Jadi, Allah menyebut terang itu hari, dan gelap itu malam.

Sehingga kita kita merujuk pada frasa “tiga hari tiga malam” berarti tiga kali terang dan tiga kali malam. Apakah benar ketika jedah waktu antara Yesus wafat hingga Yesus bangkit mengalami tiga kali terang dan tiga kali gelap? Yesus wafat yaitu pada Jumat Sore, dan saat itu ada peristiwa-peristiwa alam yang tidak lazim

Markus 15: 33-34, Pada jam dua belas, kegelapan meliputi seluruh daerah itu dan berlangsung sampai jam tiga. Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eloi, Eloi, lama sabakhtani?", yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?

Terang dan gelap pertama : Pada saat Yesus wafat kegelapan menyelimuti bumi, inilah gelap atau malam yang pertama kali. Kemudian terang lagi, karena hari masih sore saat Yesus wafat, inilah terang atau hari yang pertama.

Terang dan gelap kedua : Jumat malam, menjadi kegelapan atau malam yang kedua. Sabtu gagi, menjadi terang atau hari yang kedu  a.

Terang dan gelap ketiga : Sabtu malam, menjadi kegelapan atau malam yang ketiga. Minggu pagi, menjadi terang atau hari yang ketiga.

Inilah tiga kali terang, dan tiga kali gelap seturut nubuatan Yesus "tiga hari tiga malam," sebab memang Yesus bukan menyebut waktu 24 jam dalam hal ini, tetapi jumlah "hari" (Kej 1:5) dan jumlah malam, jumlah gelap dan jumlah terang, tiga kali terang dan tiga kali gelap.

Aku Telah Melihat Allah

Yesus memenuhi nubuatannya yakni bangkit pada hari ketiga. Salib beralih pada kubur kosong. Salib beralih pada kebangkitan. Maria Magdalena yang sedang berduka beralih pada sukacita kubur kosong. Di luar nalar manusia tetapi di kubur kosonglah benih iman itu mulai tumbuh. Di kubur kosonglah salib ternyata membawa pengharapan. Di kubur kosonglah salib dimengerti sebagai simbol sukacita. Maria berlari dan berlari membawa iman, pengharapan, dan sukacita dalam batinnya yang bergejolak (lihat kisahnya di Yohanes 20:11-18). Sekarang sukacita salib terpenuhi sempurna dan ada di dalam batin Maria. Maria berkata, Ἑώρακα τὸν κύριον, (hEWRAKA TON KURION) Aku telah melihat Tuhan” (Yoh 20:18). Dan Maria merupakan orang pertama yang dijumpai oleh Yesus yang telah bangkit dengan tubuh kemuliaan itu. Selain Maria, murid-murid Yesus juga melihat Yesus pada hari pertama minggu itu (Yoh 20:20). Maria dan para murid Yesus telah menyaksikan, mendengar, meraba, memegang, dan merasakan tentang tubuh kebangkitan Yesus itu seperti yang dituliskan oleh Rasul Yohanes dalam surat 1 Yohanes 1:1-4. Dan sekarang “Aku telah melihat Allah” telah menjadi kabar keselamatan yang diberitakan para Rasul dan gereja sejak turunnya Roh Kudus sehingga kita semua pun beroleh persekutuan dengan mereka (inilah kesinambungan gereja baik yang masih hidup maupun mereka yang telah berada di firdaus) dan persekutuan gereja adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus. Sudahkah kita melihat Allah? Sudahkah kita percaya pada kabar keselamatan itu? Kiranya hati dan pikiran kita terbuka terhadap kasih karunia Allah yang sudah dikerjakan sempurna oleh Yesus dan sekarang sedang dicurahkan melalui kuasa Roh Kudus kepada kita semua. Amin!

 

Hendi SS MTh
Dosen Exegesis PB

STT Soteria Purwokerto 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)