Opini & Budaya

Wanita dan Korupsi

Magang Dua | Rabu, 19 April 2017 - 10:08:30 WIB | dibaca: 90 pembaca

Sri Hidayati

Pendidik di SD Negeri Pasir Lor UPK Karanglewas.

Banyak pendapat di masyarakat bahwa wanita merupakan penyebab utama para pria melakukan korupsi. Dorongan dari istri menjadi faktor pemicu bagi pria melakukan tindak pidana korupsi. Sifat konsumtif wanita disinyalir menjadi penyebab bagi pria yang mempunyai jabatan baik di lembaga pemerintah maupun peranan penting lainnya di masyarakat terlibat kasus korupsi.

Kesempatan untuk menduduki berbagai jabatan penting sangat memungkinkan para pria  menjadi pelaku korupsi dibandingkan wanita. Peneliti Maria Fernanda dari University of Granada dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa perempuan kurang korup dibandingkan laki-laki. Hal ini disebabkan karena perempuan lebih beretika, lebih peduli pada kebaikan bersama dibandingkan dengan laki-laki, dan lebih mudah mengorbankan keuntungan pribadi untuk kesejahteraan bersama.

Lalu, bagaimana dengan maraknya wanita yang terlibat korupsi? Terbukanya kesempatan bagi  wanita  untuk  menduduki berbagai jabatan penting tak menutup kemungkinan wanita menjadi pelaku tindak pidana korupsi. Terungkapnya berbagai kasus korupsi yang melibatkan wanita sebagai pelakunya menambah banyak kasus yang harus ditangani oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Wanita dan pria  mempunyai potensi yang sama sebagai aktor korupsi. Kasus Angelina Sondakh, Wa Ode Nurhayati, Miranda Goeltom, Nunun Nurbaeti, Dewie Yasin Limpo, Ratu Atut Chosiyah dan yang terkini adalah Bupati Klaten Sri Hartini menambah panjang deretan wanita sebagai pelaku korupsi.

Sebenarnya apa yang melatarbelakangi seseorang melakukan tindak pidana korupsi? Apakah mereka kekurangan secara finansial? Tentu tidak. Mereka yang tersandung kasus korupsi adalah orang-orang yang tergolong mapan secara ekonomi. Mereka adalah orang-orang terpandang di masyarakat dan boleh dibilang kaya. Jadi pelaku korupsi bukan orang yang kekurangan secara materi tapi lebih dipengaruhi oleh gaya hidup konsumtif yang didukung oleh lemahnya iman.

Gaya hidup konsumtif adalah perilaku seseorang yang selalu ingin memiliki sesuatu tak hanya sekadar dibutuhkan tapi juga diinginkan. Wanita-wanita yang terjebak gaya hidup konsumtif akan merasa malu ketika memiliki barang-barang tidak bermerek. Mereka tidak lagi peduli dengan harga fantastis dari suatu barang yang penting bisa membeli barang-barang mahal dan bermerek.

  Gaya hidup konsumtif wanita yang tidak diimbangi dengan kuatnya iman sangat memungkinkan seorang wanita melakukan korupsi. Gaya hidup konsumtif membuat seseorang tidak akan pernah merasa puas dengan sesuatu yang telah dimilikinya. Berbagai cara akan dilakukan untuk memenuhi keinginanannya tersebut sehingga sangat diperlukan adanya pengendalian diri agar  tidak terjebak dengan gaya hidup konsumtif.

Wanita dengan kedudukannya baik sebagai istri maupun pejabat publik mempunyai peran dalam kasus korupsi. Namun demikian wanita juga bisa menjadi orang yang dapat mencegah terjadinya tindak pidana korupsi. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh wanita untuk mencegah terjadinya tindak pidana korupsi.

Pertama, bersikap qanaah. Menurut bahasa qanaah artinya merasa cukup. Orang yang bersikap qanaah  rela menerima dan merasa cukup atas hasil yang diusahakannya serta menjauhkan diri dari rasa tidak puas dan merasa kurang. Seorang wanita dalam kedudukannya sebagai istri atau pejabat publik yang bersikap qanaah akan memiliki pendirian bahwa apa yang diperoleh atau yang ada pada dirinya adalah kehendak Allah. Seorang istri yang bersikap qanaah tidak akan meminta sesuatu di luar kemampuan suami. Dia akan berusaha mencukupkan penghasilan suami dengan managemen keuangan keluarga yang baik.

Seseorang yang bersikap qanaah akan selalu berlapang dada, berhati tentram, merasa kaya berkecukupan, dan bebas dari keserakahan. Dengan sikap ini seseorang merasa bersyukur dengan apa yang dimilikinya. Seorang wanita akan merasa nyaman ketika apa yang dimiliki atau dikenakannya bukanlah barang-barang mahal atau bermerek.

Kedua, selalu mengasah kepekaan sosial dengan berbagi kepada sesama. Dengan berbagi akan menghindarkan seseorang dari sifat tamak dan serakah. Dia merasa segala sesuatu yang dimilikinya bukan semata miliknya. Ada hak orang lain yang harus disalurkan. Berbagi kepada sesama adalah wujud dari rasa syukur seseorang atas apa yang diperoleh dan dimilikinya. Dengan berbagi akan terasah kepekaan sosial seseorang terhadap penderitaan orang lain. Hal tersebut akan mencegah seseorang dari sikap mementingkan diri sendiri. Ketika sesorang memiliki kepekaan sosial yang baik dia tidak akan melakukan tindak pidana korupsi karena hal tersebut berarti dia telah mengambil hak orang lain.

Wanita adalah garda terdepan pemberantasan korupsi di negeri ini. Sebagai istri, ibu atau pun pejabat publik wanita selalu punya peran dalam tindak pidana korupsi. Adalah suatu pilihan untuk mengambil peran sebagai pemicu atau musuh bagi korupsi. Marilah kita ambil peran kita sebagai wanita untuk memberikan sumbang sih demi kemakmuran bangsa dengan mengatakan “tidak untuk korupsi.










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)