Sorot

Verba Volant Scripta Manent

Magang Dua | Senin, 17 April 2017 - 10:19:33 WIB | dibaca: 20 pembaca

Sejarah perjuangan kesetaraan bagi perempuan di Indonesia tak bisa lepas dari peran Kartini.  Putri dari Adipati Ario Sosrodiningrat, Bupati Jepara, ini melepaskan diri dari batasan-batasan yang membelenggu kaum perempuan. Kartini menemukan pencerahannya ketika ia mulai membaca buku-buku.

Kartini mendapat keistimewaan dengan diizinkan mengakses pendidikan di Eropase Legene School (ELS) hingga usia 12 tahun. Dari bekal pendidikan di sekolah, perempuan kelahiran 21 April 1879 ini bisa berbahasa Belanda. Ia mulai membaca buku-buku. Ia juga berdiskusi dengan kawan-kawannya di Eropa melalui surat.  Inilah awal mula Kartini mulai menyadari kaumnya dalam kungkungan ketidakadilan.

 Adat ketika itu membatasi perempuan hanya pada wilayah domestik. Perempuan hanya  menjadi kanca wingking yang tak lebih jauh dari kubangan sumur, dapur dan kasur.  Kartini melihat perempuan juga memiliki hak yang sama dengan kaum laki-laki, terutama dalam mengakses pendidikan. Dari sinilah Kartini kemudian mendobrak tradisi dengan mendirikan sekolah untuk kaum perempuan.

Kisah hidup Kartini kemudian menjadi inspirasi perjuangan kesamaan hak bagi perempuan di tanah air. Setelah teman-temannya di Belanda menerbitkan buku yang berisi surat-surat Kartini, dunia melihat gagasan dan impian Kartini tentang kesetaraan hak-hak perempuan di Jawa. Buku itu berjudul Door Duistermis Tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Buku ini yang kemudian menjadi fondasi perjuangan kesetaraan gender di Indonesia.

Kartini juga mengingatkan kita semua pentingnya budaya literasi. Budaya literasi penting karena dengan tulisan kita bisa mengenal sejarah. Sejarah akan mengajarkan tentang siapa diri kita dan ke mana kita semestinya menuju. Sejarah juga mengajarkan agar kita tak mengulangi kesalahan masa lalu. Jika kita hanya mengandalkan lisan, tentu suatu saat kearifan sejarah akan hilang. Sebab Verba Volant, Scripta Manent (yang terucap akan sirna dan yang tertulis akan abadi).

Bercermin dari Kartini, semua bermula dari buku. Kartini mengenal kesetaraan gender dari buku-buku dan diskusi dengan teman-temannya dan juga kakaknya yang dikenal cerdas, Sosrokartono. Selain membaca, Kartini juga menulis. Ia menuliskan impian-impiannya dalam lembaran surat-surat kepada temanya di Belanda.

Namun, budaya literasi yang telah dimulai sejak era Kartini tak banyak berkembang hingga saat ini. Berdasarkan studi Most Littered Nation In the World yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Indonesia persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Padahal, dari segi penilaian, infrastruktur untuk mendukung membaca peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa.

Tradisi literasi tak cukup membumi karena masyarakat kita lebih dekat dengan tradisi lisan. Masyarakat lebih gemar berkumpul dan berbincang ketimbang membaca menulis. Tradisi membaca dan menulis hanya ada pada kelompok minoritas elit yang terdidik. Sementara akses terhadap pendidikan memang sengaja dibendung selama era kolonialisme.

Dengan kondisi seperti sekarang, tradisi literasi harus dimulai dari sebagian kecil komunitas yang lebih dulu mengenal tradisi membaca dan menulis. Akan banyak tantangan ketika mengenalkan tradisi literasi di masyarakat yang kulina dengan tradisi lisan. Yang paling jelas, jangan berharap bahasa tulis akan dibalas dengan tulis ketika memulai ikhtiar memasyarakatkan budaya literasi ini. Pun jangan kaget ketika bahasa tulis dibalas dengan lisan, yang ragamnya bisa berupa menghardik atau sekadar ngedumel.

Namun bukan berarti upaya harus berhenti sampai di titik ini. Tak ada jalan yang landai nan mulus ketika hendak mencapai puncak. Akan ada jurang membentang, kerikil tajam dan semak berduri sepanjang jalan. Namun seterjal apapun jalan menuju puncak, semua akan terlewati jika kita terus berjalan. Seperti Kartini yang sendiri menghadapi hegemoni tradisi patriarki yang membonsai kaumnya. Mengubah tradisi bisa jadi memang jalan sunyi yang panjang. (afgan86@yahoo.com)

Rudal Afgani Dirgantara

Redaktur SatelitPost 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)