Sorot

Tentang Listrik

Magang Dua | Rabu, 26 April 2017 - 10:36:19 WIB | dibaca: 63 pembaca

Dampak paling kentara yang dirasakan oleh Yu Darmi sebenarnya bukan tagihan listrik bulan ini. Tapi kian mahalnya harga barang-barang kebutuhan sehari-hari

KENAIKAN tarif dasar listrik tahap kedua yang dilakukan per awal Maret masih menjadi bahan pembicaraan hangat di tataran masyarakat. Nggak hanya masyarakat kecil. Mereka yang tergolong kelas menengah ke atas pun ikut menggunjingkan kenaikan tarif dasar listrik yang menurut mereka kebangetan.

Beberapa dari warga, menumpahkannya di media sosial. Rerata mengaku kaget, tagihan listrik bulan Maret mereka melonjak sangat drastis. Meskipun telah mengetahui jika bulan ini adalah jadwal pelaksanaan kenaikan tahap dua skema pencabutan subsidi tarif listrik dari pemerintah.

Ambil contoh tetangga kompleks. Sebelum kenaikan tarif listrik diberlakukan, dalam sebulan pemakaian listrik keluarganya hanya berkisar Rp 350 ribu. Dia maklum, karena berstatus pelanggan 1300 VA. Tapi tagihan bulan ini diakuinya bikin "pusing". Bagaimana tidak, dalam sebulan pemakaian listriknya mencapai Rp 520 ribu.

Nah, anehnya meski pemerintah menyebutkan jika kenaikan tarif listrik hanya terjadi pada pelanggan golongan 900 VA, pelanggan PLN yang lain ikut terdampak. Nggak percaya. Siang tadi Yu Darmi, asisten rumah tangga saya curhat. Bulan ini tagihan listriknya naik. Padahal dia tercatat sebagai pelanggan golongna 450 VA.

Dampak paling kentara yang dirasakan oleh Yu Darmi sebenarnya bukan tagihan listrik bulan ini. Tapi kian mahalnya harga barang-barang kebutuhan sehari-hari. Seperti telur, beras, gula, sayuran. Alhasil uang Rp 20 ribu yang biasanya sudah bisa ia belanjakan sayuran, bumbu dapur dan lauk, saat ini hanya mampu buat belanja sayuran dan bumbu dapur.

Boro-boro konsep makan empat sehat lima sempurna. Memenuhi kriteria tiga kenyang saja sudah sangat bersyukur. Ya, kenaikan tarif listrik membuat daya beli masyarakat kian tersungkur. Tak hanya Yu Darmi, bahkan PNS di lingkungan Pemkab Purbalingga pun mengeluhkan yang sama. Bedanya, jika dalam seminggu dia biasanya masak ayam potong tiga kali, hingga minggu keempat bulan April ini dirinya mengaku baru sekali masak ayam potong.

Kenaikan tarif dasar listrik pada akhirnya “memaksa” orang-orang berpendapatan stagnan mengurangi konsumsinya. Istilah sederhananya, mengencangkan ikat pinggang alias jadi ngirit. Perubahan pola konsumsi di tengah masyarakat juga dipengaruhi oleh inflasi yang terjadi pasca kenaikan tarif dasar listrik.

Mengutip hasil perhitungan ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listiyanto menyebutkan, kenaikan tarif dasar listrik (TDL) berpotensi untuk mendorong inflasi sebesar 1 persen. Implikasinya, adanya potensi penurunan pertumbuhan ekonomi sebesar 0,1 persen.

Dengan kondisi yang sekarang terjadi, saya mewakili rakyat cilik berharap semoga pemerintah tak memiliki skema atau rencana untuk menaikan harga bahan bara minyak (BBM). Karena itu dipastikan akan membuat rakyat kecil kian menderita. Jangan sampai harga gas melon ikut naik. Apalagi menghilang di pasaran. Karena rakyat sudah tak mungkin lagi kembali menggunakan kompor minyak tanah.

Pemerintah harusnya sadar, betapa kami (rakyat kecil, red) sangat menurut. Ketika pemerintah perintahkan konversi minyak tanah ke gas elpiji. So, please pastikan ketersediaan gas melon di pasaran aman. Berikut dengan harganya.(yuspita_palupi@yahoo.com)

Yuspita Anjar Palupi

Redaktur SatelitPost 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)