Banyumas

Penyakit yang Diderita Keluarga di Kebasen

Supri Heran, 4 Adiknya Lumpuh

Magang Dua | Sabtu, 29 April 2017 - 10:18:36 WIB | dibaca: 19 pembaca

Juriyah (kiri) beserta satu anaknya yang lumpuh, Yanti di rumahnya di Kebasen, Jumat (28/4). SATELITPOST/SHANDI YANUAR

BANYUMAS, SATELITPOST-Penyakit saraf menghinggapi empat kakak beradik di Desa Sawangan, RT 1 RW 1 Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas. Mereka adalah empat dari tujuh bersaudara. Sedangkan, tiga saudara lainnya hidup normal.

 

 Keempat kakak beradik yang lumpuh tersebut sudah berusia lebih dari 35 tahun. Mereka adalah Muntasir, Tomo, Daryo, dan Yanti. Supriyanto, kakak dari keempatnya mengaku tak tahu persis mengapa empat saudaranya lumpuh.

 

“Rata-rata mereka terkena penyakit ini setelah lulus SMP sekitar umur 15 tahunan. Saya tidak tahu persisnya, kalau dari keterangan dokter itu penyakit keturunan, tetapi tidak ada riwayat dari keluarga saya yang seperti ini,” kata Supri yang normal tersebut kepada SatelitPost, Jumat (28/4).

 

Berbagai pengobatan sudah dilakukan oleh keluarganya untuk mengobati keempat adiknya. Namun, tidak ada satu pun pengobatan yang membuahkan hasil. Bahkan selain ke dokter keluarganya pernah membawa adik-adiknya berobat secara tradisional hingga ke Lampung.“Sudah habis semua yang ada di sini (harta, red) untuk berobat. Tetapi memang tidak membuahkan hasil. Tidak tahu penyakitnya katanya hanya saraf saja,” ujarnya.

 

Walaupun demikian, Supriyanto tidak menutup diri jika ada seseorang yang ingin membantu keluarnya dalam menjalani perawatan. “Yang penting saya berharap adik-adik saya tidak putus asa, dan selalu berusaha. Karena dulu ada satu yang mengaku tidak kuat bahkan bilang jika ada orang yang membutuhkan organ tubuhnya bilang saja nanti dai akan berikan,” kata dia.

 

Supriyanto mengatakan, selama ini memang sudah ada beberapa komunitas dan istri Bupati Banyumas datang ke rumah ibunya dimana mereka memberikan sembako serta uang untuk kebutuhan sehari-hari. “Tetapi sudah habis semua, adik-adik saya yang sakit ada empat yakni Muntasir, Tomo, Daryo dan Yanti,” ujarnya.

 

Diketahui, pasangan Juriyah-Juryanto memiliki tujuh anak. Empat anak mengalami lumpuh, sementara tiga anak yang lain normal. Selain Supriyanto, ada dua anak yang normal, tapi hidup merantau. Sementara, sang ayah Juryanto sudah meninggal dunia.

 

Sang ibu, Juriyah mengaku setelah ditinggal suaminya perekonomian keluarganya menjadi turun bahkan dirinya yang sudah tua tidak lagi bisa bekerja. “Saya dulu bertani, suami saya menggarap sawah, saya yang membersihkan padi ataupun membantu menanam padi,” kata dia.

 

Menurut Juriyah untuk makan dirinya dan keempat anaknya yang lumpuh dia mengandalkan makanan kiriman dari anak-anak tertuanya yang sehat dan hidup mapan. “Anak saya ada delapan satu meninggal dunia sekarang tinggal tujuh. Tiga orang hidup normal, terkadang mengirimi makanan ke kami,” kata dia.

 

Selain menunggu makan dari anak tertuanya dirinya juga berusaha mengirit beras yang ada di lumbung belakang rumah dan mencari lauk seadanya di sekitar pekarangan lingkungan rumahnya. “Kalau ada jantung (buah pisang, red) saya masak, ada daun singkong ya saya masak. Semuanya yang bisa dimakan saya masak,” ujarnya. (shandiyanuar@yahoo.com)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)