Opini & Budaya

Sujatin: Sosok Kartini dari Banyumas

Magang Dua | Kamis, 27 April 2017 - 10:14:15 WIB | dibaca: 59 pembaca

Suatu ketika, Kesultanan Yogyakarta mengadakan lomba pawai untuk memperingati 25 tahun bertahtanya Ratu Belanda. Selain pawai ada juga lomba drama. Pemenang pertama lomba drama adalah siswa-siswi sekolah MULO yang mengusung kisah tentang Kartini. Hadiah akan diberikan langsung oleh Sri Sultan Hamengkubuwono VIII di Gedung Sositet ujung jalan Malioboro. Pada saat penyerahan hadiah, pemenang pertama diwakili oleh pemeran Kartini yaitu seorang gadis pemberani yang bernama Sujatin.

Ada peristiwa unik yang terjadi saat proses penyerahan hadiah tersebut. Sujatin, si gadis pemberani itu tidak melakukan sembah kepada Sri Sultan. Ia hanya membungkuk saja sebagai tanda hormat. Hadirin yang melihat sungguh heran dengan sikap Sujatin. Sikap yang melanggar adat kebiasaan padahal acara itu disaksikan tidak hanya oleh masyarakat tapi juga oleh residen, bupati, dan para pembesar Belanda.

Sebenarnya, sebelum menerima hadiah ada perang batin dalam diri Sujatin, apakah ia akan menyembah atau tidak. Seperti ini kira-kira gambaran batin Sujatin kala itu,

“Tiba-tiba saja segalanya terasa berjalan cepat dan bising. Hatiku terasa pecah karena gugup. Aku berperang melawan batin sendiri. Menyembah atau tidak?” tanyaku di dalam hati.

“Menyembah saja, karena itu sudah jadi adat yang dihormati,” jawabku.

“Jangan-jangan! Kau seorang pejuang yang benci feodalisme.” bisik hatiku lagi.

“Tapi ini kan di muka umum? Bagaimana?” aku bingung sendiri oleh dialog ini.

“Justru baik! Di muka umum, perlihatkan kau konsekuen ingin menghapus feodalisme.”

“Jadi tak usah menyembah?”

“Tak usah,” jawabku sendiri.

Tanya jawab ini hanya berlangsung beberapa detik, dalam perjalanan menuju ke mimbar tempat Sri Sultan berdiri hendak menyerahkan hadiah. Mungkin kami hanya terpisah oleh jarak sejauh empat puluh meter.

Aku memerlukan keberanian moral melawan umum, melawan tradisi usang yang diagungkan oleh Belanda sebagai satu alat meninabobokkan kita. Kalau tidak menyembah, risikonya dikecam oleh pecinta tradisi. Sebaliknya kalau menyembah raja di hadapan umum berarti aku mengingkari sikap dan pendirianku sendiri.

Ketika tiba di mimbar, aku sampai kepada keputusan, tidak menyembah Sri Sultan, apa pun akibatnya.

Hadiah yang disampaikan berupa sebuah schemerlamp (lampu yang bertudung) yang sangat indah. Sabda Sri Sultan: “Lampu ini melambangkan habisnya gelap, terbitlah terang.”

“Terima kasih, Gusti. Terima kasih!” jawabku seraya membungkuk, seperti memberi hormat kepada orang tua atau para guru.

Aku tak membuat sembah.

          Sujatin konsisten dengan apa yang menjadi cita-citanya. Ia dikenal sebagai gadis yang menentang bentuk feodalisme. Selain sikapnya tersebut, Sujatin juga menunjukkan antifeodalismenya melalui tulisan. Satu di antaranya terdapat dalam majalah Jong Java yang berjudul Was Ik Maar Een Jongen atau Andaikan Aku Seorang Laki-Laki. Pada tulisan tersebut Sujatin mengkritik praktik feodalisme yang acapkali merugikan perempuan.

          Usianya saat itu memang masih muda, ia lahir 9 Mei tahun 1907 di Desa Kalimenur, Wates Yogyakarta. Walaupun lahir di Yogyakarta, ia menghabiskan banyak waktunya di Banyumas karena ayahnya adalah kepala stasiun di Sumpiuh. Tingginya pengetahuan yang dimiliki oleh Sujatin, selain berasal dari ayahnya yang berpendidikan tinggi juga karena faktor bacaan. Sujatin amat gemar membaca dan satu buku yang amat disukainya sampai-sampai menjadi inspirasi dalam hidupnya adalah buku tulisan Kartini yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang.

          Sujatin menempuh pendidikan guru dan selama menjalankan studi ia aktif mengikuti organisasi seperti Jong Java dan Budi Utomo. Ia sering diminta untuk memimpin rapat atau memberikan ceramah. Kesempatan itu tidak pernah ia lewatkan, seperti yang ia cita-citakan bahwa perempuan haruslah maju, berpendidikan dan tidak tertinggal dengan laki-laki. Pada acara-acara organisasi ia lebih suka menggunakan bahasa Belanda daripada bahasa Jawa. Bukan karena ia tidak menyukai bahasa Jawa tapi semata-mata hanya karena dalam bahasa Jawa terlalu bertingkat-tingkat yang menurutnya lekat dengan unsur feodalisme.

          Sifat menonjol lainnya dari Sujatin adalah pergaulannya yang luas. Ia bergaul dengan perempuan dan laki-laki, dan dengan semua orang dari bangsa manapun. Hal ini membuatnya lebih bisa menerima perbedaan baik perbedaan ekonomi, ras, warna kulit, suku, dan agama. Sujatin menghargai semuanya, menghormati teman-temannya yang berbeda. Bahkan dari perbedaan-perbedaan yang ada pada mereka itulah, Sujatin belajar tentang banyak hal.

Bentuk lain dari sikapnya yang menolak feodalisme adalah ia tidak simpati dengan gaya hidup model keraton. Ia memberanikan diri memanggil Gusti Kanjeng Ratu Dewi yang merupakan saudara perempuan Sultan Hamengkubuwono VIII dengan panggilan Nyonya Dewi saja. Gusti Kanjeng Ratu Dewi tidak marah, bahkan tertawa lucu mendengar panggilan praktis ini. Sikap Sujatin ini sudah diketahui banyak orang, apalagi Gusti Kanjeng Ratu Dewi adalah anggota kraton yang aktif di organisasi.

Tidak hanya persoalan pemanggilan nama keluarga bangsawan yang dilanggar oleh Sujatin. Namun ia juga kerap melanggar tata krama yang biasa berlaku di keluarga kraton. Peristiwa ini terjadi sewaktu Sujatin menjadi guru les private anak keluarga kraton Yogyakarta. Sujatin menyatakan bahwa ia bersedia menjadi guru private asalkan ia diantar-jemput naik kereta kuda, dan boleh duduk di kursi bukan di lantai.

Sujatin adalah perempuan yang mampu menangkap alam pikiran Kartini. Sujatin tidak hanya membaca surat-surat Kartini, tapi ia juga memahami dan mempraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Selama aktif di organisasi bahkan sampai ia menjadi Ketua Umum PERWARI, Sujatin tak pernah lelah untuk menyampaikan apa yang menjadi cita-cita Kartini. Salah satunya adalah nasihat Sujatin agar perempuan jangan hanya bergantung pada laki-laki. Menurutnya, perempuan akan lebih baik kalau berpendidikan, dan maju dalam pikiran sehingga semua persoalan tidak hanya diputuskan oleh laki-laki namun juga atas pertimbangan perempuan. Bagi Sujatin, akan lebih baik  kalau perempuan mempunyai penghasilan sendiri seberapapun itu. Kemampuan ekonomi yang dimiliki seorang perempuan tidak akan menjadikan perempuan tergantung sepenuhnya pada laki-laki.

Namun ada garis tegas yang senantiasa dijadikan pedoman oleh Sujatin dalam mengatur gerak langkahnya untuk memajukan perempuan. Menurutnya kebebasan yang diperoleh perempuan baik dalam pendidikan dan pekerjaan sehingga menempati posisi yang setara dengan laki-laki, tidak untuk membuat perempuan lebih unggul dari laki-laki. Namun tujuan yang utama adalah menyelaraskan antara lelaki dan perempuan sehingga tercipta suatu harmonisasi kehidupan.

          Sujatin sangat patut dijadikan teladan. Setelah menikah dengan laki-laki yang bernama Kartowijono ia masih bisa aktif di organisasi perempuan, bekerja, dan mengurus anak-anak serta suami. Banyak yang memberikan ia pujian sebagai perempuan yang berhasil karena rumah tangganya pun awet sampai maut memisahkan.

Sujatin ini adalah satu tokoh yang dikenal getol menyuarakan agar Indonesia memiliki Undang-Undang Perkawinan yang disahkan 2 Januari 1974 untuk melindungi perempuan dalam mahligai perkawinan. Perempuan-perempuan Indonesia harus berterima kasih kepada Sujatin karena berkat perjuangannya semua perempuan Indonesia memiliki posisi dan daya tawar yang kuat dalam lembaga perkawinan. Berbanggalah menjadi perempuan Indoensia. Selamat Hari Kartini.

Arifin Suryo Nugroho

Dosen Prodi Pendidikan Sejarah

Universitas Muhammadiyah Purwokerto 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)