Opini & Budaya

Salat dan Kerukunan Masyarakat

Magang Dua | Jumat, 21 April 2017 - 10:03:31 WIB | dibaca: 69 pembaca

Priyanto, Guru PAI SMP N 3 Mrebet Purbalingga

Satu peristiwa penting dalam sejarah kenabian Muhammad SAW dan perkembangan Islam adalah Isra’ Mi’raj, sebagaimana dinarasikan dalam QS al-Isra’: 1. Perjalanan tersebut menjadi saksi sejarah yang monumental dan spektakuler dan merupakan pengalaman Rasulullah Muhammad SAW dalam mendidik takwa kepada umat manusia, oleh karenanya tidak mengherankan jika umat Islam memberikan perhatian khusus dengan memeringatinya setiap tahun.

Dalam bingkai sejarah, Isra dan Mi’raj berkait erat dengan dua tempat suci yaitu Masjid al-Haram di Makkah, dan Masjid al-Aqsha di Bait al-Maqdis Yerussalem (Palestina). Masjid al-Haram, baik dalam arti bangunan itu sendiri ataupun dalam arti keseluruhan kompleks Tanah Suci Makkah, adalah tempat bertolak Rasulullah SAW dalam menjalani Isra dan Mi’raj. 

Makkah, sebagai titik tolak dalam peristiwa Isra dan Mi’raj, tersirat makna bahwa Makkah merupakan titik tolak semua ajaran para Nabi dan Rasul, yakni ajaran Tauhid. Selain itu, dalam sebuah ayat dinyatakan bahwa tempat ibadah yang pertama kali dibangun manusia di atas bumi berada di Makkah. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia,” (QS. ‘Ali Imran : 96). Dengan ungkapan lain Mekkah memiliki nuansa sejarah agama-agama (Tuhan) yang berawal dan berakhir di Mekkah.

Setelah bertolak dari Makkah, Rasulullah singgah di Bait al-Maqdis atau Masjid al-Aqsha. Di masjid ini Rasulullah SAW menjadi imam salat bagi seluruh Nabi dan Rasul. Hal ini merupakan tanda yang diperlihatkan Allah kepada Nabi Muhammad, yang tidak lain ialah riwayat dan perjuangan para Nabi sebelumnya, dalam rangka memberi penyegaran kembali tentang tugas suci beliau sebagai penutup para Nabi dan Rasul. 

Dari Masjid al-Aqsha Rasulullah kemudian melakukan Mi’raj ke Sidratul Muntaha. Dalam hadits disebutkan bahwa Sidratul Muntaha dilihat oleh Nabi setelah mencapai langit ketujuh. Sidrah adalah pohon sidrah; sedangkan Muntaha artinya penghabisan. Pohon sidrah adalah pohon lambang kebijaksanaan dan kearifan. Maka kalau Rasulullah sampai ke Sidratul Muntaha, artinya mencapai tingkat kearifan yang tinggi, atau telah sampai pada puncak pengetahuan dan kearifan. Namun demikian Rasulullah masih diajari Allah supaya berdoa Ya Tuhan tambahilah ilmukukarena ilmu tidak akan habis.

Puncak dari perjalanan Isra Mi’raj adalah diterimanya perintah salat wajib langsung dari Allah SWT tanpa melalui perantara sebagaimana perintah agama yang lain. Sepintas perintah salat ini tidak jauh berbeda dengan perintah keagamaan lainnya. Namun jika direnungkan secara tepat dan mendalam, salat mengandung dimensi kemanusian yang sangat luas. 

Dalam salat, bacaan yang paling penting adalah Al-Fatihah. Dalam Al-Fatihah bacaan yang terpenting adalah memohon petunjuk Ihdina ash-shirath al-mustaqim. Karena kebenaran itu tidak mudah diperoleh, maka setiap kali kita harus bertanya kepada Allah. Ujungnya adalah bahwa kita harus cukup rendah hati. Kita selalu mempunyai kemungkinan untuk salah dan tidak akan mungkin mengetahui kebenaran mutlak. Sehingga dalam pergaulan sehari-hari kita harus demokratis, yaitu mau mendengarkan pendapat orang lain sebagaimana kita mempunyai hak untuk menyatakan pendapat kepada orang lain.

Selain itu, menurut Mahmud Muhammad Thaha dalam bukunya “Risalah Salat” menyatakan bahwa salat adalah media bagi seseorang guna merealisasikan perdamaian dengan dirinya, untuk selanjutnya menjadi muara bagi hadirnya perdamaian seluruh manusia. Salat juga merupakan metode yang jika dilakukan dengan khusu’ bisa membuat kita mampu melihat hakikat kedirian kita; bertemu dengan jiwa kita sendiri; hidup berdampingan dengannya; mengenali; dan mewujudkan perdamaian dengannya. 

Perdamaian tidak akan ada di dunia ini kecuali apabila setiap individu bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Seorang individu tidak akan dapat berdamai dengan diri sendiri kecuali apabila ia dapat berpikir sesuai yang dia kehendaki, berkata sesuai dengan yang ia pikirkan, serta bertindak seperti apa yang ia katakan. Dan kemudian dampak dari tindakannya selalu baik bagi masyarakat.

Seseorang yang dapat mencegah dirinya dari perbuatan keji dan munkar adalah orang yang dapat berdamai dengan dirinya sendiri. Karena sebagaimana yang kita ketahui bahwa dalam diri manusia terdapat dua kecenderungan yakni kecenderungan pada ke-fujur-an (penyimpangan/kesesatan) dan kecenderungan pada kebaikan (takwa). Maka salat dalam konteks ini adalah media yang paling efektif dalam mengarahkan seseorang muslim untuk mengalahkan kecenderungan fujurnya hingga ia mampu konsisten pada ketakwaan dan kemudian mencapai kedamaian dengan dirinya, kemudian dengan orang lain. Hal ini tentu saja akan menciptakan kerukunan dan kehidupan yang harmonis di tengah masyarakat.

Untuk mencapai hikmah seperti itu bukanlah perkara yang mudah, karena tidak jarang kita menyaksikan orang yang salat namun di saat yang lain ia berbuat kemungkaran. Padahal dalam satu ayat dijelaskan bahwa salat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar (QS al-‘Ankabut : 45). Salat yang tidak berefek pada pencegahan perbuatan maksiat mungkin disebabkan ritme kehidupan manusia dewasa ini yang kian meningkat kecepatannya dan kian deras arusnya sehingga pelaksanaan salat kurang kontemplatif, kurang khusu’, dan kurang tafakkur.

Selain sebagai sarana komunikasi dengan Allah SWT untuk mencapai derajat ketakwaan yang lebih tinggi, salat juga merupakan sarana perekat ikatan sosial. Salat akan berfungsi sebagai perekat sosial bila dilakukan bersama-sama, yakni berjemaah. Pertemuan berkala dan rutin saat mengikuti salat jamaah nicaya akan merekatkan rasa persaudaraan dan saling mengenal satu sama lain. Sehingga tidak ada lagi tetangga yang tidak mengenal tetangga lainnya. Kehidupan yang dilandasi sikap rendah hati dan demokratis, yakni kesediaan mau mendengar pendapat orang lain, akan mengantarkan terwujudnya kerukunan hidup dalam masyarakat. Semoga.

Wallahua’lamu bishshawab.










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)