Banyumas

Kisah Kolektor Benda Pusaka

Punya Pedang Naga Puspa, Ditawar Puluhan Juta

satelit post | Sabtu, 19 September 2015 - 10:25:10 WIB | dibaca: 52318 pembaca

SUTARMO dan Muslihin menunjukkan pedang naga puspa yang dapat berdiri di rumahnya, belum lama ini. SATELITPOST/EKADILA

DI cerita silat Tutur Tinular, setiap petualangannya, pendekar Arya Kamandanu selalu ditemani oleh pedang pusakanya bernama pedang Naga Puspa ciptaan gurunya, Mpu Ranubhaya. Berniat dari rasa penasaran jika Pedang Naga Puspa memang nyata ada di muka bumi, Sutarmo (43) dan Muslihin (32) warga Desa Paningkaban, Kecamatan Gumelar berburu pedang naga puspa ke berbagai daerah. Setelah melakukan petualangan selama dua tahun akhirnya mereka menemukan pedang naga puspa sepasang yang diidamkannya.

Sutarmo dan Muslihin merupakan santri padepokan Cakra Langlang Buana punya hobi berburu benda-benda pusaka. Dan Pedang Naga Puspa sepasang itu satu dari sekian puluh benda pusaka hasil buruannya yang paling fenomenal.

"Saat  mencari pedang naga puspa itu lewat tirakat, ritual tertentu. Berdasar petunjuk yang kami terima, letak Pedang Naga Puspa itu pun kami temukan di pegunungan dan di pantai selatan," kata Sutarmo di rumahnya RT 2 RW 2 tanpa mau meneybut lebih rinci dua tempat tersebut.

Dua pedang itu merupakan sepasang, laki-laki dan perempuan. Mereka temukan sekitar tahun 2010 silam. Keistimewaan pedang naga puspa itu, lanjutnya, dapat berdiri dan bisa terbang.

"Setelah kami dapatkan pedang itu, kami coba berdirikan, ternyata bisa. Selain itu dengan dibacakan doa-doa khusus, pedang ini dapat terbang," katanya. Meski telah banyak kolektor yang menawar dengan harga puluhan juta rupiah, mereka tidak mau melepaskannya. "Mengingat petualangan mendapatkan pedang itu tidaklah mudah, maka kami akan simpan di rumah, tidak akan dijual," terangnya.

Bentuk pedang itu cukup unik. Warangkanya berukir dan bagian pegangannya terdapat ukiran menyerupai kepala naga. Untuk menengarai mana pedang yang laki-laki dan perempuan, pedang naga puspa laki-laki kepala naganya bertanduk dan yang perempuan ukuran kepala naganya lebih kecil dan tanpa tanduk. Panjang pedang sekitar satu meter. "Kami tak tahu terbuat dari kayu apa warangka pedang itu. Yang jelas pedang ini kami yakini berasal dari alam gaib. Mengenai pembuatnya siapa dan kapan dibuat kami juga tak tahu," ucap Muslihin.

Selain Pedang Naga Puspa, benda pusaka yang dikoleksinya berupa tongkat kayunagasari, pedang kayu tongkat bambu berusia ratusan tahun, golok kayu cendana yang diprolehnya dari tempat-tempat wingit.

"Seperti golok kayu cendana dari Gunung Sirah, Desa Kalibacin, Purwojati, tongkat bambu tua di sebuah makam Desa Karangkemojing, Gumelar yang kami yakini sebagai benda pusaka. Dengan keunikan dan kelangkaan benda-benda pusaka yang kami dapatkan, memberi kepuasan tersendiri," ujarnya (ekadila)










Komentar Via Website : 1
rizal
21 Juli 2016 - 16:53:34 WIB
wau sungguh luarbiasa. Petualangannya.
AwalKembali 1 LanjutAkhir


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)