Komunitas

Pisau sebagai Alat Pemersatu

Magang Dua | Senin, 20 Maret 2017 - 11:17:34 WIB | dibaca: 100 pembaca

Sebagian besar orang menempatkan pisau sebagai perkakas dapur. Atau sebagai alat bantu sehari-hari. Namun ada hal unik yang dilakukan komunitas pencinta pisau Asgardian Penginyongan. Di mana pisau malah dijadikan media olahraga dan kumpul komunitas.

 

Koordinator Komunitas Asgardian Barlingmascakeb ditambah Tegal, Pemalang, Pekalongan dan Wonosobo, Guyup Triyanto menuturkan, komunitas ini didirikan pada 28 April 2014 lalu. Kegiatan yang ada memiliki misi mengumpulkan para praktisi, pencinta, dan penikmat pisau dan sejenisnya.

 

“Tujuannya sederhana, agar bisa menjadi wadah untuk saling bertukar informasi, serta bertukar pikiran antar anggota,” katanya.

 

Asgardian, lanjut Guyub, sebenarnya merupakan sebuah akronim dari Asosiasi Gaman Lovers Sedulur Penginyongan. Komunitas atau kelompok ini masih berkait erat dengan Indonesian Blades di tingkat nasional. Nama lokal Asgardian dipilih agar lebih mengena di wilayah lokal namun tetap berpedoman pada arahan Indonesian Blades.

 Mereka dalam komunitas juga menunjukkan jika imej pisau sebagai senjata yang berdekatan dengan kejahatan bisa pupus. Karena sejatinya pisau bisa digunakan sesuai dengan fungsi aslinya untuk alat bantu sehari- hari dalam memotong dan lainnya.

 

“Bahkan pisau bisa sebagai alat pemersatu dan olahraga serta mengumpulkan persaudaraan yang kokoh antar manusia. Khususnya yang sudah tergabung dalam komunitas kami,” kata  pemuda yang tinggal di Purbalingga ini.

 

Uniknya lagi, setiap tahun dalam momen gathering nasional juga selalu diselipi ajang perlombaan. Misalnya memotong kayu dengan diameter tertentu dan panjang tertentu dengan kecepatan waktu yang hanya hitungan kurang dari satu menit.

 

“Sasaran bahan yang dipotong bermacam, ada kayu, botol plastik kosong dan isi air serta sedotan plastik, gulungan kertas dan lainnya. Bahkan pernah ada waktu tercepat pemotongan dengan pisau tertentu manual tangan, hanya membutuhkan waktu 6 detik,” ujar Guyub.

 

Komunitas ini selalu melakukan pertemuan insidental hanya untuk sekadar ekshibisi dan saling kumpul bersama berolahraga. Sekaligus berlatih bagaimana memanfaatkan pisau atau gaman ini agar maksimal dan bijak.

 

Tak lama lagi di akhir bulan ini pihaknya juga akan mengikuti gathering nasional di Baturraden. Saat gathering itulah akan semakin terbuka saling sharing kemampuan menggunakan pisau yang terampil dan cepat dalam memotong, mengarahkan ke sasaran dengan dilempar dan lainnya.

 

“Persaudaraan antar personel sangat kuat dan sembari memasyarakatkan kemampuan menggunakan pisau yang sebenarnya sebagai alat dan ajang olahraga positif. Sehingga tidak ada penyalahgunaan pisau untuk aksi kejahatan,” kata dia.

 

Guyub sendiri optimitis, kegiatan positif dengan menggunakan pisau sebagaimana mestinya, akan mampu menggugah masyarakat dalam memahami arti sebuah gaman atau senjata pegangan untuk digunakan sesuai fungsinya. (bal)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)