Politik

Pemilu Kita Hanya Pemilu-pemiluan

satelit post | Senin, 21 September 2015 - 10:11:28 WIB | dibaca: 267 pembaca

JAKARTA, SATELITPOST-Ketua Umum Partai Bulan Bintang Yusril Ihza Mahendramengatakan bahwa sistem pemilihan umum perlu diperbaiki, terutama mekanismekerja Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan KPU Daerah. Dengan demikian, suarapemilih benar-benar terakumulasi dengan baik dan tak diintervensikepentingan-kepentingan di luar KPU sebagai penyelenggara.

Pernyataan tersebut disampaikan Yusril untuk menanggapi soal kesediaandirinya untuk mencalonkan diri sebagai calon presiden pada Pemilu 2019.

Yusril menganggap sistem dan hasil pemilu di Indonesia mengerikan karenayang menjadi poin terpenting adalah bukan siapa yang memilih, melainkan siapayang mengatur pemilih. Karena itu, hal yang menjadi fokus utama adalahbagaimana mekanisme pemilihan berjalan dengan baik serta bagaimana sistemtersebut adil, terbuka, dan membuka kesempatan yang sama bagi semua pihak.

“Yang perlu disiapkan lebih dulu adalah mekanisme pemilihan agar berjalandengan baik. Jadi bukan hanya menyangkut saya, tapi menyangkut semua anakbangsa dalam melaksanakan prinsip-prinsip perundang-undangan,” kata Yusril,Minggu (20/9), sebagaimana diberitakan Kompas.com.

Menurut dia, hal yang harus difokuskan adalah menjalankan dengan benarperaturan perundang-undangan mengenai pemilu. Dengan demikian, tidak ada lagisejumlah kecurangan yang secara mudah bisa dilakukan jika penyelenggara tidaktaat undang-undang.

Dia memaparkan, kecurangan pertama adalah mengenai 30 persen kotak suarayang disiapkan untuk suara tambahan. Sering kali, surat suara cadangan dicoblosterlebih dahulu oleh oknum, dan sudah berada di kotak suara sebelum pemilihansuara dimulai. Rekayasa semacam itu dianggap Yusril sangat mudah dilakukan,bahkan tidak bisa dikendalikan.

Kecurangan berikutnya adalah saat penghitungan surat suara di berbagaitingkat, mulai dari kelurahan hingga kabupaten. Yusril menambahkan, suara-suaratersebut bisa hilang di jalan dan rawan disisipi oleh kekuatan uang. Uangtersebut bukan digunakan untuk membayar pemilih, melainkan untuk mengatur suara.

“Bagi kami yang paham politik dengan etika tinggi, akan terus-menerusmengalami kekalahan dalam situasi seperti ini. Akhirnya pemilu kita hanyapemilu-pemiluan,” ujar pakar hukum tata negara tersebut. (gus)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)