Banjarnegara

dr Agus Ujianto MSi Med SpB

Patah tulang (2)

Magang Dua | Senin, 17 Oktober 2016 - 12:53:26 WIB | dibaca: 137 pembaca

Patah tulang merupakan terputusnya kontinuitas tulang yang ditentukan atas jenis dan luasnya, setiap retak atau patah pada tulang yang utuh. Arus kendaraan yang semakin padat membuat kasus kecelakaan lalu lintas, banyak terjadi dan membuat sebagian korbannya mengalami retak atau patah tulang.

Banyak pula kejadian alam yang tidak terduga dan menyebabkan retak tulang. Kurangnya pengetahuan seputar penanganan retak tulang, membuat sebagian masih percaya pada dukun pijat. Terlebih, gejala retak tulang mirip dengan  terkilir dan biasanya langsung diasumsikan kesembuhan memang terjadi karena sunatullah meski sembuhnya mall union.

Patah dan retak tulang, lebih sering terjadi pada laki-laki dengan umur dibawah 45 tahun. Kalngan usia tersebut sering berhubungan dengan olahraga, pekerjaan atau kecelakaan. Sedangkan pada usia lebih tua, prevalensi cenderung lebih banyak pada wanita berhubungan dengan adanya osteoporosis atau karena perubahan hormon.

Menurut jenis garis patahannya, retak tulang meliputi Complete fracture (retak tulang komplet), patah pada seluruh garis tengah tulang, luas dan melintang. Seringkali disertai dengan perpindahan posisi tulang, bisa tertutup atau closed fracture (simple fracture), dan tidak menyebabkan robeknya kulit, integritas kulit masih utuh.

Jenis yang lain adalah jenis patah tulang terbuka atau Open fracture yang merupakan retak tulang dengan luka pada kulit (integritas kulit rusak dan ujung tulang menonjol sampai menembus kulit) atau membran mukosa sampai ke patahan tulang.

Pada dunia kedokteran, patah tulang terbuka dibagj menurut tingkat beratnya  menjadi: Grade I; luka bersih dengan panjang kurang dari 1 cm. Grade II; luka lebih luas tanpa kerusakan jaringan lunak yang ekstensif dan Grade III; sangat terkontaminasi, dan mengalami kerusakan jaringan lunak ekstensif.

Pada anak yang dalam usia muda, patah tulangnya sering disebut Greenstick, dimana patah tulangnya hanya mengenai salah satu sisi tulang patah, sedang sisi lainnya membengkok.

Patah tulang lainnya disebut Transversal, dimana garis patahannya sepanjang garis tengah tulang. Disebut Oblik, jika garis retak tulang membentuk sudut dengan garis tengah tulang. Sedang patah tulang Spiral, jika garis retak tulang memuntir seputar batang tulang.

Jenis patahan lainnya adalah Komunitif, dimana retak tulang dengan tulang pecah menjadi beberapa fragmen atau remuk. Sedang Depresi, retak tulang dengan fragmen patahan terdorong ke dalam (sering terjadi pada tulang tengkorak dan wajah). Sedang jenis patah tulang Kompresi, retak tulang di mana tulang mengalami kompresi (terjadi pada tulang belakang).

Ada jenis patah tulang dikarenakan Patologik, misalnya jika retak tulang terjadi pada daerah tulang berpenyakit (kista tulang, paget, metastasis tulang, tumor). Jika fragmen tulang tertarik oleh ligamen atau tendo pada pwrlekatannya dan njepat disebut avulsi.  Sedang pada daerah sendi maka retak tulang melalui epifisis, dan retak tulang di mana fragmen tulang terdorong ke fragmen tulang lainnya disebut impaksi.

Pasien yang mengalami patah tulang akan mengalami nyeri terus menerus, hilangnya fungsi penopang dan gerak, terjadi ketidaknormalan atau deformitas, pemendekan ekstremitas, terdapat suara gesekan antar sendi atau krepitus, pembengkakan lokal dan perubahan warna.

Pada penatalaksanaan di UGD, setelah bagian yang retak akan di imobilisasi dengan kayu atau bilah, petugas akan menilai pain (rasa sakit), paloor (kepucatan/ perubahan warna), paralisis ( kelumpuhan/ketidakmampuan untuk bergerak), parasthesia ( kesemutan ), dan pulselessnes (tidak ada denyut).

Petugas akan melakukan Rotgen sinar X, pemeriksaan dan darah rutin untuk menilai banyaknya darah yang hilang dan persiapan operasi jika dimungkinkan.

Adalah suatu kewajiban untuk mengimobilisasi bagian yang cedera apabila klien akan dipindahkan dan perlu disanggah bagian bawah maupun atas tubuh yang mengalami cedera tersebut untuk mencegah terjadinya rotasi atau angulasi.

Jika kita curiga akan patah tulang, maka perlu mengetahui Prinsip penatalaksanaan tulang. Yang dimaksud dengan Reduksi retak tulang berarti mengembalikan fragmen tulang pada kesejajarannya dan rotasi anatomis.

Yang disebut mengembalikan fragmen tulang ke posisinya (ujung-ujungnya saling berhubungan) dengan manipulasi dan traksi manual. Alat yang digunakan biasanya traksi, bidai dan alat yang lainnya.

Bagi pasien yang ingin tingkat keakurasian baik, maka pilihan reduksi terbuka adalah yang utama dan hanya bisa dilakukan dokter berkompeten. Dokter bedah, akan memasang alat fiksasi internal dalam bentuk pin, kawat, sekrup, plat, paku.

Tulang patah akan memerlukan waktu untuk menyambung kembali dan diperlukan posisi diam, karena sunatullah penyembuhan penyakit perlu waktu, termasuk tulang. Posisi diam tersebut disebut Imobilisasi dan  dapat dilakukan dengan metode eksternal maupun internal.

Seorang ahli akan mempertahankan dan mengembalikan fungsi status neurovaskule dan memantau peredaran darah, nyeri, perabaan, gerakan. Perkiraan waktu imobilisasi untuk penyatuan tulang yang mengalami retak tulang adalah kurang lebih tiga bulan tergantung dari region mana yang mengalami retak tulang serta nutrisi yang diberikan.

Jadi tidak bisa serta merta langsung bisa bergerak bebas. Jika Anda mengalami patah tulang maka bisa mengetahui mulai proses penyembuhan tulang ialah tidak ada nyeri atau sembuh klinis dan sembuh radiologi dimana pada ronsen tampak mulai didapatkan tulang muda baru yaitu callus. Nah kaum terpelajar, jangan sampai terkena patah tulang ya karena sangat mengurangi aktifitas dalam meraih cita-cita setinggi bulan Bintang.










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)