Opini & Budaya

Memberi dengan Tulus

Magang Dua | Sabtu, 29 April 2017 - 10:17:44 WIB | dibaca: 20 pembaca

Konon ada cerita tentang pertapa yang tersesat di tengah pasar buah. Tentu saja ia tidak membawa bekal apa-apa untuk dimakan. Uang pun tidak. Barang untuk digadaikan pun tidak. Satu-satunya harta yang berharga yang dimilikinya adalah mulutnya. Dan itu berarti meminta. Tetapi ia berharap berbicara tanpa menjual rasa kasihan kalau ia seorang pertapa. Ia tidak ingin kelemahan atau kekurangannya menjadi senjata demi belas kasih yang ingin digapainya. Tak pula pekerjaannya atau hidupnya dijual demi mempertahankan hidup. Ia akan meminta dan terus meminta tanpa mempermalukan diri sendiri.

Di pasar buah itu ia melihat buah mangga. Bau harumnya tercium. Meski insting daya cium kalah kuat dari hewan malam kelelawar atau codot yang lihai mendeteksi mana buah yang matang dan belum, dengan bau harum itu ia merasa yakin kalau buah mangga itu lezat.

“Bolehkan saya meminta mangga?” pintanya kepada pedagang tersebut.

 “Apa? Meminta? Nggak ya! Nggak ada!” jawab pedagang itu.

“Mungkin ada yang agak busuk” kembali ia meminta sambil melirik ke deretan mangga yang dikerubuti lalat.  “Nggak ada, tahu! Itu bukan busuk tapi sangat matang. Itu banyak dicari untuk ramuan!” Suara pedagang itu mulai mengeras.

Pedagang di kanan kirinya menoleh ke arahnya. Tidak seperti biasa pedagang itu melayani tamunya. “Ya kalau boleh nempil juga tidak apa-apa. Kalau tidak boleh ya sudah” Sekali lagi pertapa itu masih meminta. “Hei. Tidak ada yang gratis, ya! Mangga ini dijual! Aku tidak mau rugi! Kalau tidak punya apa-apa jangan ke sini, gembel!” bentaknya.

Orang-orang yang ada di situ terdiam menyaksikan kejadian itu. Memang pakaian pertapa itu compang-camping. Satu-satunya pakaian yang dikenakannya. Tiba-tiba ada seorang ibu tua penjual mangga yang  berada di samping pedagang yang marah-marah tadi menawarinya. “Pak, kalau mau mangga ini juga tidak apa-apa. Ambillah. sambil menyerahkan sebuah mangga ke tangan pertapa.

 “Hei. Tua! Jangan beri Dia. Biar kapok!” Pedagang pertama tadi melarang ibu tersebut. “Nggak apa-apa, pak. Meski tidak terlalu manis nggak apa-apa kalau bapak mau. Toh hanya satu kog, Saya tidak akan rugi. Tapi kalau bapak mau….”

Pertapa itu memegangnya dan kemudian menciumnya. Senyum lebar bahagia pertanda mangga itu manis meski ibu pedagang  itu mengatakan tidak manis. Beberapa kali ia menciumi mangga itu dan merasakan keharumannya. Seperti suatu upacara, matanya terpejam lalu menciumi mangga dan senyum terlintas di wajahnya dalam beberapa saat. Lalu ia menatap pedagang tua itu. “Mangga yang diberikan dengan ikhlas ini tidak boleh dimakan sendiri.”

 Lalu dengan gerak cepat pertapa itu menggali lobang dan menanam buah mangga di depan ibu pedagang tersebut. Dalam hitungan sekejap ia menyelesaikan upacara itu. Orang-orang yang ada di situ terdiam menyaksikan kejadian tersebut. Dan hebatnya mangga itu bertunas dan tumbuh menjadi besar. Dalam kejapan mata pohon itu telah berbuah. Orang yang ada di situ menikmati dan mengatakan bahwa mangga itu manis. Anehnya setiap kali buah dipetik, buah  baru muncul dari tangkai yang sama sehingga memang tidak pernah ada habisnya. Selalu terulang demikian setiap kali orang memetiknya. Lalu pertapa itu berkata pada pedagang tua tersebut, “Pohon mangga ini adalah milikmu yang tumbuh dari kemurahan hatimu. Peliharalah baik-baik.Pedagang yang kikir tidak pernah mendapat kunjungan pembeli lagi. (cerita bijak, anonimous)

Kisah ini mau mengatakan bahwa memberi itu suatu  perbuatan yang indah. Ia bukan saja membahagiakan orang yang diberi tetapi juga orang yang memberi. Keduanya menerima kegembiraan. Orang yang memberi dengan tulus hati akan mendapatkan imbalannya. Sebaliknya orang yang pelit, owel, dan kikir akan menuai hal yang sama. Tersendat-sendat, kemalangan, kesulitan, dsb. Namun tidak jarang orang tergoda memberi dengan syarat. Ada imbalan yang diharapkan meskipun imbalan itu tidak dikatakan. Misalnya orang mengirim makanan agar anaknya mendapat tempat kerja. Orang memberi kado ultah kepada teman-temannya agar kalau ia ultah ia juga mendapat kado. Orang memberi sumbangan agar namanya dicatat atau dikenang, dan sebagainya.

Pemberian yang tulus tidak dapat diukur dari jumlah uang atau barang yang dikembalikan kepadanya. Pemberian yang tulus akan memberi kegembiraan yang istimewa karena dengan cara ini orang meniru Tuhan. Tuhan mengasihi manusia tidak pandang bulu, tidak dengan syarat. Ia mengasihi dengan tulus dan rela. Kepada orang kaya dan orang miskin ia menurunkan hujan yang sama atau matahari yang sama. Tuhan mencintai manusia tidak dengan harapan agar kemuliaan-Nya bertambah atau nama-Nya lebih termasyur dan diucapkan banyak orang. Tetapi Tuhan memberi agar manusia hidup dalam kebahagiaan. Kendati diingkari, dijauhi, dituntut karena doa-doa yang tertunda ia menerima semua perlakuan itu dengan rela. Dia hanya ingin manusia menemukan Tuhannya.

Guru Al-Masih mengajari para murid dan pengikut-Nya untuk selalu rela memberi. Kerelaan memberi itu menjadi jalan mendekati Tuhan. Ia menginginkan agar mereka memberi dan membagi apa yang dimiliki. Saat Yesus Al-Masih berjumpa dengan  para pengikutnya,  hari berlangsung sudah senja. Tidak ada perencanaan bahwa pertemuan itu akan berlangsung lama. Tentu saja ini membutuhkan makan malam. Dana untuk membeli makanan dirasa tidak mencukupi. Maka sang Guru itu meminta murid-murid-Nya untuk mengumpulkan bekal yang dibawa oleh mereka. Sang Guru yakin bahwa mereka membawa bekal sebagai persediaan bagi mereka sendiri.

Supaya banyak orang menikmati kegembiraan bersama bekal itu harus dibagi. Pada saat itu ia menyaksikan seorang anak kecil membawa 2 ekor ikan dan 5 potong kue. Ia mengatakan, “Lihatlah anak kecil ini datang kemari membawa 2 ikan dan 5 potong kue. Ia ingin berbagi dengan kita semua.” Lalu bekal-bekal dikumpulkan. Dan Yesus mendoakan dan memberi berkat. Bekal makan dibagikan dan semua yang hadir merasakan kegembiraan. Mukjizat terjadi. Makanan malah berlimpah bahkan sampai sisa duabelas bakul.

Dalam pribadi anak tergambar kepolosan dan ketulusan. Ia memberi dengan ikhlas. Sang Guru mengajari kita untuk memberi dengan tulus seperti anak kecil tersebut atau seperti pedagang tua. Kesediaan memberi itu menyejahterakan bangsa. Mukjizat Yesus Al-Masih  tidak terletak pada roti dan ikannya tetapi pada keterbukaan hati untuk membagi apa yang dimiliki sesudah mereka melihat bagaimana sang Guru mensyukuri dan memberkati pemberian 5 roti dan 2 ikan seorang anak yang murah hati. Semoga kita memberi dengan tulus hati. (*)

RD. Ag. Dwiyantoro

Pastor/ Imam Gereja St Yosep










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)