Sorot

Media

Magang Dua | Rabu, 19 April 2017 - 10:08:46 WIB | dibaca: 20 pembaca

Meningkatnya penggunaan media sosial membuat setiap masyarakat bisa menyajikan berita dan informasi sendiri. Entah itu lewat blog, media sosial, maupun laman pribadi buatan sendiri. Informasi begitu mudah didapatkan. Bahkan apapun yang jadi viral langsung jadi sorotan. Tak jarang hal-hal yang berawal dari status viral jadi berita. Meski artikel dan tulisan yang disajikan banyak yang tak sesuai dengan kaidah jurnalistik, bahkan beberapa ada yang bersifat hoax.

Pun sekarang ini profesi jurnalis sepertinya sepi peminat. Ketimbang jadi jurnalis yang bergerak di lapangan, warga cukup berbekal ponsel saja bisa jadi berita viral. Jangan salah, kekuatan netizen di dunia maya tak boleh dipandang sebelah mata. Penandatanganan petisi secara online, pengumpulan dana bantuan bersama secara online, sudah sangat sering dilakukan. Warga yang posting di media sosial, viral dan jadi berita juga sudah berkali-kali terjadi.

Diluar maraknya berita hoax yang bersliweran, seperti berita meresahkan modus penculik anak yang menyamar jadi orang gila, media tetap masih memiliki fungsi. Wartawan dan jurnalis yang terjun di lapangan bukan sekadar merekam berita, namun juga mengkonfirmasi setiap informasi. Memastikan kebenaran dari setiap data yang didapatkan. Seperti informasi tentang warga yang mengalami kesulitan dan belum mendapatkan bantuan. Anda sadari atau tidak, setelah masuk media massa, bantuan berdatangan.

Lalu hal paling sering terjadi ketika ada sebuah potret kemiskinan. Seperti yang kita ketahui, beberapa kali potret kemiskinan di daerah Banyumas Raya jadi sorotan. Fenomena Tasripin di Cilongok, Banyumas juga pernah mengemuka dan jadi perbincangan. Sebelum diberitakan oleh media, Tasripin bertahan hidup dan mengurus tiga adiknya. Kondisi kemudian berubah ketika ia diberitakan media massa. Semua orang lantas berbondong-bondong datang dan penasaran. Ramai-ramai ingin membantu.

Bila pembaca masih ingat, tahun 2015 lalu juga ada seorang anak yang tinggal di atas kandang ayam bersama anaknya. Ada juga satu keluarga yang hidup di bekas kamar mandi di Purbalingga. Lalu yang paling baru di Banjarnegara, seperti yang diberitakan Satelitpost kemarin. Ada seorang anak bersama dua kakak dan ibunya hidup miskin hingga menahan lapar sampai dua hari.

Mengapa potret kemiskinan ini kerap kali terabaikan dan luput dari perhatian dari pemerintah sekitar? Terkadang saya pun heran, apa harus masuk media dulu dan diliput, baru mendapatkan perhatian, pencerahan dan solusi. Jika memang ada warga miskin dan sangat membutuhkan bantuan, apa salahnya tetangga terdekat bersama pemangku kebijakan duduk dan memikirkan solusinya bersama. Minimal, sebelum masuk ke media massa, sudah ada penanganan ataupun perhatian dari pemerintah desa. Bayangkan jika tak ada media yang menyoroti kehidupan Ida (11) dan dua kakaknya di Susukan Banjarnegara. Apakah mereka akan bisa menahan lapar hingga berhari-hari lamanya?

Semoga ke depan, makin banyak masyarakat yang peduli terhadap sesama, terhadap tetangga terdekat. Kenapa harus menunggu jadi viral dulu baru ditolong? Jika kita sendiri yang berada dalam kesulitan seperti mereka, belum tentu bisa bertahan. Apatis dan melakukan pembiaran tidak memberikan banyak perubahan. Saya pernah terpikir di benak dan bertanya-tanya, mengapa kita bisa sebegitu pedulinya dengan pilkada yang berlangsung di daerah lain, sementara di dekat rumah sendiri ada yang sangat membutuhkan pertolongan?(sugestisatelitpost@gmail.com)

pull out : Apa harus masuk media dulu dan diliput, baru mendapatkan perhatian, pencerahan dan solusi.










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)