Sorot

May Day

Magang Dua | Jumat, 28 April 2017 - 10:12:57 WIB | dibaca: 9 pembaca

Setiap tanggal 1 Mei kita peringati sebagai hari buruh internasional atau yang lebih dikenal dengan sebutan May Day. Peringatan May Day akan selalu identik dengan aksi demo buruh di jalanan dengan jumlah massa yang besar.

Tak jarang aksi demo kaum buruh tersebut berujung kerusuhan. Momen May Day selalu digunakan kaum buruh untuk menyuarakan hak-haknya yang belum terpenuhi, seperti upah yang rendah dan sebagainya. Peristiwa May Day ini sejatinya sangat lekat dengan peristiwa yang terjadi di lapangan Haymarket, Chicago, Illinois, Amerika Serikat (AS) pada 4 Mei 1886.

Peristiwa Haymarket sangat berkaitan dengan aksi mogok kerja yang sudah berlangsung pada April 1886. Hari Buruh lahir dari berbagai rentetan perjuangan kelas pekerja untuk meraih kendali ekonomi-politis hak-hak industrial. Perkembangan kapitalisme industri di awal abad 19 menandakan perubahan drastis pada ekonomi-politik, terutama di negara-negara kapitalis di Eropa Barat dan Amerika Serikat.

Pengetatan disiplin dan pengintensifan jam kerja, minimnya upah, dan buruknya kondisi kerja di tingkatan pabrik, melahirkan perlawanan dari kalangan kelas pekerja.  Pada intinya May Day dimaknai sebuah gerakan perjuangan kelas! Kali ini pun Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) akan menggelar peringatan Hari Buruh atau May Day 2017 yang dimulai dari Bundaran Hotel Indonesia (HI) longmarch ke Istana, ada juga yang dimulai Salemba longmarch ke Istana, dan ada juga yang dimulai dari Cempaka Putih longmarch ke Istana. Adapun hal yang menjadi tuntutan, yaitu penghapusan outsourcing dan pemagangan, pemberian jaminan sosial, serta tolak upah murah.

Namun agak berbeda dengan peringatan May Day sebelumnya, Presiden KSPSI Andi Gani Nena menyatakan 'May Dayn2017 akan aman dan damai’. "Kita akan buat beda, kalau dulu orang takut karena ada aksi bersama, tapi nanti akan ada nuansa beda, ada parade kebudayaan dari Jalan Thamrin sampai Istana, ada marching band, atraksi pencak silat," katanya.

Peringatan May Day yang memiliki sejarah panjang baik di dunia internasional maupun di tanah air, telah meninggalkan peluh, airmata bahkan darah dari kaum buruh. Dengan adanya May Day mengingatkan kita bahwa peran mereka tetaplah penting.

Selama masa pemerintahan Orde Baru, buruh melakukan upaya pemogokan kerja. Pada masa itu pula, tuntutan buruh akan upah layak, cuti haid, hingga upah lembur mulai digaungkan. Komisi Upah yang saat itu dibentuk untuk mengakomodasi kepentingan buruh juga mulai bersuara adanya proses penetapan upah yang tidak adil bagi buruh.

Aksi unjuk rasa ribuan buruh dan mahasiswa kembali dilakukan pada 1 Mei 2000. Ketika itu, para buruh menuntut agar 1 Mei kembali dijadikan hari buruh dan hari libur nasional. Unjuk rasa yang disertai dengan mogok kerja besar-besaran di sejumlah wilayah di Indonesia itu membuat gerah para pengusaha. Pasalnya, aksi mogok berlangsung hingga satu minggu.

Seiring pergantian penguasa, lambat laun persoalan buruh makin menemukan solusi terbaik. Diantaranya pemerintah menaikkan upah.  Meski bagi sebagian kaum buruh dinilai masih tetap kurang.  Dan pada tahun 2013 di era presiden SBY resmi menandatangani Peraturan Presiden yang menetapkan bahwa 1 Mei sebagai hari libur nasional. Hal itu ibarat kado istimewa bagi kaum buruh khususnya. Toh sejatinya karyawan, pegawai, dan sejenisnya pun sama halnya buruh yang perlu mendapat perhatian hak-haknya selaku pekerja. Maka May Day adalah peringatan bagi kaum pekerja. Selalulah perhatikan hak-hak mereka. (messidonna45@yahoo.com)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)