Sorot

May Day (2)

Magang Dua | Sabtu, 29 April 2017 - 10:17:35 WIB | dibaca: 33 pembaca

Sudah sejak lama tuntutan upah layak yang selalu diperjuangkan buruh, menjadi polemik di masyarakat. Sebagian mendukung, tapi tidak sedikit juga yang kontra.

Mereka yang kontra menganggap, serentetan tuntutan yang setiap tahun dikoarkan itu, sulit dibenarkan. Produktivitas buruh di Indonesia yang dianggap masih rendah, selalu saja menjadi alasan utamanya. Maka mereka berkesimpulan tuntutan menaikkan upah dan memenuhi tuntutan lainnya itu, sama sekali tidak revelan.

Pandangan sebaliknya, tentu saja lebih sering terdengar. Perjuangan buruh harus terus dikawal. Sebab faktanya, sistem yang ada saat ini dianggap belum berpihak. Hasil kerja buruh hanya dinikmati para pemilik modal saja. Alasan rendahnya produktivitas buruh, hanya legitimasi rezim upah murah.

Begitulah fakta yang ada di Indonesia saat ini. Kondisi itu diperburuk dengan rendahnya kesadaran buruh untuk berserikat. Padahal, serikat pekerja atau buruh ini sangat diperlukan untuk menjembatani penyelesaian konflik-konflik industrial, termasuk tuntutan para pekerja.

Sayangnya, hak berserikat atau berorganisasi ini masih dianggap tidak penting oleh sebagian besar pekerja di Banyumas raya. Hal itu diakui Haris Subiyakto, Ketua DPC Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Banyumas.

Berdasarkan data yang dimiliki hasil kajian SPSI, tak sampai 30 persen dari sekitar 60 ribu buruh di Banyumas raya yang sudah bergabung dengan serikat pekerja. Kondisi tersebut tentu saja sangat jauh dari harapan.

Padahal diakuinya, SPSI cukup gencar mengkampanyekan bahwa berserikat adalah kebutuhan mutlak yang harus dipenuhi sebagai sarana memperjuangkan terpenuhinya hak-hak buruh atau pekerja. Di antaranya hak atas upah, hak buruh perempuan atas fungsi reproduksi, dan hak atas kesehatan, serta keselamatan kerja.

Menurut Haris, ada banyak faktor yang membuat mayoritas buruh di Banyumas raya enggan, atau tepatnya belum berserikat. Di antaranya, mereka terlarut dalam kesibukan pekerjaan kesehariannya sebagai buruh. Beberapa juga mengaku menerima intimidasi dari perusahaan tempatnya bekerja.

Dari sekitar 1000 perusahaan aktif di Banyumas raya, mayoritas punya kekhawatiran terhadap pembentukan serikat pekerja. Karena eksistensi serikat buruh, masih dianggap akan merugikan perusahaan.

Hanya melalui serikat itulah, pekerja atau buruh dapat merundingkan penyusunan peraturan perusahaan, dan menyelesaikan masalah pemenuhan hak-haknya sebagai buruh.

Hal itu juga tertuang dalam ketentuan umum undang-undang tentang serikat pekerja yang intinya menyatakan, serikat pekerja atau serikat buruh adalah organisasi yang dibentuk dari, oleh, dan untuk pekerja/buruh. Baik di perusahaan, maupun di luar perusahaan yang bersifat bebas, terbuka, mandiri, demokratis, dan bertanggungjawab guna memperjuangkan, membela, serta melindungi hak dan kepentingan pekerja/buruh, demi meningkatkan kesejahteraan pekerja atau buruh dan keluarganya.

Jika menginginkan terjadinya perubahan besar, maka buruh harus bersatu melalui serikat pekerja/buruh. Buruh kuat, karena bersatu. Karena tembok kuasa, terlalu kokoh untuk dihadapi sendirian. ([email protected])










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)