Cilacap

Laskar Torent Al-ihya Ulumaddin Cilacap

Magang Dua | Jumat, 21 April 2017 - 10:12:42 WIB | dibaca: 58 pembaca

SANTRI Al-ihya Ulumaddin Cilacap. ISTIMEWA

Jam dinding di Pesantren Al-ihya Ulumaddin Cilacap masih menunjukan pukul 03.00 WIB. Tapi empat santri sudah terlihat sibuk di sebuah bangunan yang disebut Torent Al-iIhya. Bangunan ini berdiri di bawah Jembatan Sungai Serayu yang menghubungkan Kecamatan Kesugihan dan Kecamatan Maos Cilacap.

Faqih, Syarif, Bukhori, dan Yusuf bertugas memenuhi kebutuhan air bersih di Pesantren Al-ihya Ulumaddin Cilacap. Mereka bahu membahu mengurus persediaan air untuk para santri di pesantren tertua di Cilacap itu. Baik untuk kebutuhan MCK maupun memasak.

Torent Al-ihya berdiri tahun 2001. Bangunan ini berada di Desa Kesugihan Kidul Kecamatan Kesugihan Kabupaten Cilacap. Torent ini memiliki mesin pompa, panel kontrol, dan mesin diesel. Di bagian atas bangunan terdapat bak penampungan air berkapasitas 100 meter kubik; sedangkan di sebelah timur bangunan terdapat lima buah sumur bor dan sebuah sumur tua peninggalan Belanda.

 Faqih dkk bertugas membuka dan menutup kran torent serta memastikan persediaan air bersih di pondok aman. Mereka juga bertugas jaga malam sekaligus mengisi bak penampungan air untuk persediaan suplai di esok harinya. Begitulah tugas mereka sehari-hari di Torent Al Ihya.

"Kami berempat bertugas bergiliran. Saat tidak berjaga di torent kami pergi ngaji di pondok atau kuliah," ujar Faqih.

 Air Torent Al-ihya berasal dari Sungai Serayu. Sungai Serayu merupakan sungai terbesar yang membentang sejauh 181 Km di selatan Jawa Tengah. Sungai ini melintasi Kabupaten Wonosobo, Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, dan bermuara di Kabupaten Cilacap (Samudera Hindia).

Sebelum layak digunakan, air Sungai Serayu harus melalui proses penyaringan. Mula-mula, air masuk ke sumur-sumur kontrol. Air kemudian akan masuk menuju sumur penyaring yang ada di sebelah barat sumur kontrol. Setelah proses tersebut, air dipindah ke sumur penampung yang berdiameter 8 meter dengan kedalamam 20 meter.

Saat air sudah masuk ke sumur penampung, santri-santri itu akan mengontrol kondisi air. Mereka memeriksa apakah air sudah layak dikonsumsi atau belum. Jika belum layak, mereka akan melakukan penjernihan dengan cara memberi obat dan antiseptik.

Torent Al-ihya juga memanfaatkan sumur dalam (sumur bor) dan sumur tua peninggalan Belanda yang telah berumur ratusan tahun. Sumur ini masih kokoh dengan diameter mencapai 3 meter. Bagian atasnya ditutup dengan jaring untuk mencegah masuknya kotoran. Di dinding bagian dalam sumur terdapat sebuah tangga yang digunakan untuk masuk saat hendak menguras air.

Proses mengalirkan air menuju pesantren memanfaatkan daya grafitasi. Dengan ketinggian bangunan torent yang mencapai 24 meter, air dari bak penampung mengalir menuju pesantren melalui pipa yang berukuran 3 inci. Pipa sepanjang 150 meter ini ditimbun di tanah dengan kedalaman 1 meter. Melalui pipa bawah tanah ini air dialirkan ke bak-bak penampungan di dalam pesantren.

AI-ihya Ulumaddin merupakan pesantren terbesar di kabupaten Cilacap. Saat ini jumlah santrinya mencapai 1000 orang. Kebutuhan air sehari-hari mencapai 250 meter kubik. Sementara bak penampungan air di torent hanya berkapasitas 100 meter kubik.

“Akibatnya para santri sering kekurangan air. Di pagi hari para santri harus antre dan berisiko terlambat mengikuti kegiatan,” ujar Faqih.

Pesantren Al-ihya sudah puluhan tahun mendedikasikan diri untuk melayani para santri yang datang menimba ilmu. Sarana dan prasarana disediakan demi kenyamanan mereka. Termasuk ketersediaan air sebagai sendi pokok kehidupan.

Air sehat dengan sanitasi yang baik sangatlah penting. Bila lingkungan pesantren sehat maka para santri pun akan sehat dan lebih konsentrasi saat belajar.

 

 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)