Sorot

Lagu Terlarang

Magang Dua | Kamis, 27 April 2017 - 10:14:02 WIB | dibaca: 78 pembaca

Industri musik tanah air tampaknya bergerak tanpa arah yang jelas. Minusnya panduan dalam berkarya membuat karya-karya yang lahir banyak menyimpang dari agenda edukatif, khususnya bagi generasi muda. Munculnya lagu-lagu berlirik vulgar dan menggiring pendengarnya berfantasi melakukan aktivitas seksual menjadi penandanya.

Merespons maraknya lagu yang bernuansa mesum ini, Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Tengah mengeluarkan larangan. Sejauh ini ada 11 lagu yang dinyatakan terlarang untuk diputar di radio-radio dan televisi di Jawa Tengah. Selain larangan terhadap 11 lagu ini, KPID juga membatasi 47 lagu. Pembatasan ini berarti lagu tersebut hanya bisa disiarkan pada jam dewasa mulai pukul 22.00 – 03.00 WIB.

Sebanyak 11 lagu yang dinyatakan terlarang ini antara lain Apa Aja Boleh (dipopulerkan Della Puspita), Hamil Duluan (Tuty Wibowo), Maaf Kamu Hamil Duluan (Ageng Kiwi), Pengen Dibolongi (Aan Annisa), dan Mobil Bergoyang (Lia MJ dan Asep Rumpi).

Lagu lainnya yang dilarang karena mengandung kata-kata kasar, cabul dan merendahkan martabat manusia seperti lagu Bombassu (JHF), Njaluk Kelon (Ratna Antika dan Sodiqin), Kudu Misuh (Dalang Poer), Cinta yang Salah (The Law), Lelaki Kardus (Nova Risqi Romadhon), Kimcil (Srempet Gudal).

Langkah KPID Jawa Tengah ini didasari Undang-undang nomor 32 tahun 2002 tentang Penyiaran. Berdasarkan temuan KPID, diduga masih banyak lagi lagu yang mengandung muatan porno. KPID juga menyebut pelaku kerap membandel dengan terus memproduksi lagu-lagu sejenis.

Sebagai antisipasi, apa yang dilakukan KPID patut diapresiasi. Namun yang dilakukan lembaga ini tak cukup untuk melindungi publik dari gelombang lagu-lagu berlirik sensual. Sebab, masih banyak saluran-saluran yang bisa diakses untuk mendapatkan lagu-lagu tersebut. Sebut saja internet yang bisa diakses di manapun dan kapanpun. Di internet layanan video bahkan tak sulit dijangkau, oleh anak sekalipun.

Karena itu, kuncinya ada pada masing-masing individu. Publik harus kritis terhadap produk-produk yang berkonten negatif. Untuk anak, orangtua juga perlu cermat dan bijak dalam hal pemberian izin mengakses internet. Orangtua perlu membangun pertahanan dalam diri anak sejak dini dari hal-hal yang bisa merusak moralitas.

Di sisi lain, pemerintah juga harus memastikan regulasi yang ada mampu melindungi warga dari muatan negatif yang terselip dalam berbagai produk budaya. Selain larangan, tetapkan juga sanksi bagi para produser lagu-lagu bermuatan vulgar.

Selain lagu-lagu berbau saru, masyarakat juga diminta untuk mengawasi isi siaran radio berupa iklan pengobatan yang menjanjikan kesembuhan, berlebihan dan memuat testimoni, iklan obat vitalitas, iklan alat bantu seks, kata-kata vulgar yang semestinya mengudara di atas pukul 22.00, jam siar iklan rokok yang seharusnya di atas pukul 21.30 serta  program talkshow konsultasi seks, pengobatan supranatural, mistik. Selain itu yang perlu diawasi adalah  kata-kata penyiar yang memuat ujaran kebencian serta kekerasan verbal seperti pencemaran nama baik, makian, siaran agama yang menjelek-jelekkan agama lain, menyalahkan keyakinan atau paham tertentu yang sah menurut negara.

Jika menemukan kondisi seperti itu bisa langsung dilaporkan melalui SMS ke nomor 0813 260 26000 atau email ke kpidjateng@yahoo.com. Tak perlu khawatir karena nama pengadu akan dirahasiakan. (afgan86@yahoo.com)

Rudal Afgani Dirgantara

Redaktur SatelitPost 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)