Opini & Budaya

Kritik Kartini Terhadap Praktik Poligami

Magang Dua | Kamis, 20 April 2017 - 10:14:22 WIB | dibaca: 66 pembaca

Anwar Hadja, Pendidik.Tinggal di Bandung.

Tak diragukan lagi, Raden Ajeng Kartini adalah pejuang emansipasi wanita paling berpengaruh di Tanah Air kita.  Kartini dengan tegas menolak poligami; tetapi pada akhirnya menyerah dan menjalani hidup poligami. Gagalkah perjuangannya menentang poligami?

Bagi Kartini, poligami merupakan sumber penderitaan wanita Bumiputra. Adat istiadat yang membolehkan poligami itu, menurut Kartini disebabkan oleh tiga hal. Pertama, adat yang memanjakan laki-laki. Laki-laki lebih diunggulkan dibanding wanita, sehingga laki-laki cenderung menindas wanita. Kedua, wanita sendiri berada pada posisi lemah, dan tidak mandiri, karena kurangnya wawasan dan pendidikan. Akibatnya, wanita menerima saja perlakuan tidak adil dari laki-laki, menyerah, pasrah, dan tawakal. Ketiga, agama Islam yang melindungi poligami, sedikit banyak dianggapnya ikut memberi peluang penyalahgunaan agama sebagai alat menindas kaum wanita.

Persepsi Kartini yang bersifat negatif terhadap praktik poligami banyak dipengaruhi  pengalaman ibunya sendiri yang bernama Ngasirah. Sebenarnya Ngasirah, bukan wanita biasa-biasa saja. Dia adalah putri seorang kiai terkenal dari Teluk Awur, Jepara, Kiai Modirono, dan ibunya Siti Aminah. Teluk Awur masuk distrik Mayong. RM.Sosrononingrat, Wedana Mayong, menikah dengan Ngasirah sekitar tahun 1872. Ngasirah yang baru berusia 14 tahun, langsung diboyong ke Mayong, dan tinggal di rumah kawedanaan. Ternyata Ngasirah gadis subur. Dari dirinya lahir delapan anak: lima laki-laki, dan tiga perempuan. Kedelapan anak Ngasirah itu, berturut-turut adalah, (1) Slamet Sosronongrat (1873 M), (2) Sosro Busono (1874 M), (3) Sosro Kartono (1877 M), (4) Kartini (1879 M), (5) Kardinah (1881 M), (6) Sosro Mulyono (1885 M), (7) Sumatri (1888), dan (8) Sosro Rawito (1892 M). Dengan demikian Kartini adalah anak ke-4 dari Ibu Ngasirah dan RM.Sosroningrat. Ditinjau dari sudut pewarisan tahta, posisi Ngasirah sebenarnya cukup kuat, karena dia mampu mempersembahkan lima orang putra calon pewaris tahta ayahnya.

Sayang adat poligami tradisi Jawa mengatur seorang bangsawan hanya boleh mengambil seorang  istri padmi dari keturunan bangsawan. Karena Ngasirah hanya anak kiai, dan kiai dalam pandangan adat Jawa digolongkan kepada rakyat biasa, maka sebagai istri RM Sosroningrat, sekalipun Ngasirah adalah istri pertama, dia tidak berhak menyandang gelar Raden Ayu..Ibu Kartini hanya berposisi sebagai garwa ampil, istri selir. Dan anak-anaknya tidak berhak memanggilnya dengan panggilan Kanjeng Ibu. Tetapi cukup dengan panggilan “simbok” saja. Namun anak-anak Ngasirah tetap boleh menyandang gelar Raden Ajeng dan Raden Mas.

Ketika Ngasirah telah memberikan dua anak laki-laki,  RM.Sosroningrat menikah lagi dengan putri Adipati Jepara, Raden Ayu Muryam. Dan sejak itulah Ngasirah mengawali kehidupan poligami sebagai istri selir yang tentu saja harus tunduk dan patuh kepada aturan yang ditetapkan Raden Ayu Muryam, Misalnya, Ngasirah tidak boleh menerima tamu, tidak boleh masuk rumah utama, tidak boleh dipanggil Ibu oleh anak-anak kandungnya. Tempat tinggalnya pun di gandok belakang, bersama-sama dengan kamar para pembantu.

 Sepanjang hayatnya, RA.Muryam hanya melahirkan tiga anak wanita, yaitu.Sulastri (1877), Rukmini ( 1880), dan.Kartinah(1883). Sebagai seorang Raden Ayu yang berhak dipanggil Kanjeng Ibu oleh anak-anak Ngasirah, RA.Muryam telah melaksanakan kewajibannya dengan baik. Dia merawat anak-anak tirinya, bagaikan anak kandungnya sendiri. Setelah menikah dengan RA.Muryam, Pemerintah Hindia Belanda, pada tahun 1881 M, memberi promosi kenaikan jabatan. RM. Sosroningrat diangkat menjadi  Adipati Jepara, menggantikan mertuanya, ayah RA.Muryam. Sejak itu RM.Sosroningrat pindah dari Mayong ke Jepara. Ngasirah, ikut serta pindah ke Jepara.

Kartini pernah terlibat konflik dengan RA.Muryam. Namun, dengan perasaan getir, Kartini tetap memuji Ibunda, sebutan akrab Kartini kepada RA.Muryam dalam suratnya kepada sahabatnya.”Ibunda tidak dapat dipersalahkan, bahwa dia pernah tidak menyukai diri saya, dan saya pun tidak pernah sakit hati. Waktu itu pun aku telah sadar, sekalipun tidak sesadar sekarang. Tugas yang dipikulkan kepada beliau itu melampaui kemampuan manusia umumnya. Yaitu, membesarkan anak tiri serentak dengan anak-anak sendiri, sedang tiap hari beliau harus menerima kehadiran ibu mereka, sekalipun baginya sang madu tidak lebih dari seorang pembantu rumah tangga. Kasihan Ibu. Kasihan Ibunda,” keluh Kartini.

Penderitaan ibunya yang menjalani kehidupan poligami itulah yang menimbulkan persepsi negatif Kartini terhadap praktik poligami. “Saya menyaksikan penderitaan. Dan saya sendiripun sangat menderita karena penderitaan ibu saya, karena saya adalah putri ibu saya. Kadang-kadang berhari-hari lamanya suasana demikian muram dan sedih, sehingga sesaklah napas saya. Saya begitu mendambakan akhir hidup saya, hingga andai kata saya tak sayang pada bapak saya…sudah saya akhiri hidup saya ini!”

Kartini terombang-ambing, antara mengikuti perintah ayah yang sangat dicintainya dan menerima lamaran duda beranak enam dan beristri selir tiga, atau tetap memegang prinsip yang telah diyakininya, menolak suami poligami. Ternyata Kartini memilih mengorbankan prinsipnya. Dia menerima keputusan ayahnya. Pada tanggal 8 November 1903 M, pada usia 24 tahun, Kartini mengakhiri masa lajangnya, menikah dengan Adipati Jepara, RMAA. Jayaadiningrat. Kartini pun menjadi garwa padmi dengan gelar Raden Ayu, punya enam anak tiri, dan tiga madu sekaligus.

Sebagai pribadi, pemberontakan Kartini melawan poligami adat Jawa, gagal total. Tetapi pesannya kepada bangsanya berhasil. Poligami yang menindas wanita, bertentangan dengan semangat zaman yang menghendaki keadilan, dan lebih menghargai manusia, wanita, dan kemanusiaan. Kurang dari satu tahun setelah pernikahannya pada tanggal 8 November 1903, Kartini wafat pada tanggal 17 September 1904, empat hari setelah melahirkan seorang bayi laki-laki.

Kartini tidak sempat mengetahui, bahwa poligami dalam Islam beda dengan poligama adat Jawa. Dalam Islam poligami bukan kewajiban. Menikah memang wajib. Tetapi poligami hanya pilihan. Itu pun jika suami dapat berlaku adil, dan mendapat persetujuan istri terdahulu. Jika tidak dapat berlaku adil, dan tidak mendapat persetujuan istri pertama, poligami tidak boleh dipaksakan. Poligami sesuai tuntunan agama Islam, tidak berdosa. Tetapi tidak berlaku adil dalam poligami, itulah perbuatan dosa yang akan mengantarkannya ke neraka. Wallahu alam.










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)