Opini & Budaya

Dakwah Nusantara: Inspirasi Peradaban Dunia

Magang Dua | Jumat, 28 April 2017 - 10:14:08 WIB | dibaca: 29 pembaca

Agama merupakan pedoman hidup yang dianut seluruh manusia di muka bumi. Para ahli perbandingan agama mengenalkan pengetahuannya bahwa ada agama dakwah dan agama non-dakwah. Penentuan ini berdasarkan ada tidaknya tuntutan penyebaran ajaran dalam doktrinnya. Agama dakwah ialah agama yang memiliki kepentingan suci untuk menyebarkan kebenaran dan menyadarkan orang kafir sebagaimana yang dicontohkan sendiri oleh penggagas agama itu dan diteruskan oleh para penggantinya (Arnold, 1970: 25).

Islam adalah agama dakwah, karena di dalam kitab sucinya sering diungkapkan dan telah dibuktikan oleh jejak pembawanya, Rasulullah SAW. Sebagai kebenaran, Islam harus tersebar luas dan penyampaian kebenaran tersebut merupakan tanggung jawab umat Islam secara keseluruhan. Dakwah Islam bukan sebuah propaganda (Ismail, 2011: 12), baik dalam cara, niat, dan tujuannya. Sekalipun mewajibkan umatnya menyiarkan agama, namun Islam tidak menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Islam adalah kebenaran, maka sebuah penistaan jika disampaikan dengan kelicikan.

Dakwah merupakan segala bentuk aktivitas penyampaian ajaran Islam kepada orang lain dengan berbagai cara bijaksana agar memahami dan mengamalkan ajaran Islam dalam semua lapangan kehidupan. Islam harus disampaikan secara terbuka, bebas, dan jujur. Maksud kata terbuka dalam berdakwah, cenderung kepada sikap rendah hati, mengakui keterbatasan, dan menerima kritikan dan perbaikan dari luar. Dakwah harus disampaikan secara jujur, tanpa adanya unsur kebohongan, apalagi manipulasi. Juga disampaikan secara bebas, tanpa adanya paksaan. Karena hakikatnya mengislamkan adalah tugas Tuhan (memberi hidayah), manusia hanya diperintah untuk mengingatkan. Jika dipandang lebih manusiawi, pada prinsipnya kebenaran itu sangat jelas dan jiwa manusia sendiri condong kepada kebenaran. Oleh karena itu, dakwah kebenaran harus dilandaskan kepada keyakinan, bahwa kebenaran ini hanya dapat diterima manusia dalam keadaan bebas tanggung jawab.

Dakwah Nusantara: Berbudaya

Perkembangan Islam di Nusantara, khususnya di Jawa, tidak begitu saja menggantikan kebudayaan yang telah ada. Sebagaimana yang telah tercatat dalam sejarah, bahwa Nusantara kaya akan budaya. Oleh karena itu tidak bisa dipertentangkan antara budaya dan agama. Dakwah Islam di Nusantara pertama kali lebih mementingkan keamanan dan kenyamanan rakyat daripada langsung menyebarkan agama. Karena langsung menyebarkan agama tanpa memperhatikan budaya (kemanusiaan) adalah kecerobohan. Dalam sejarah dakwah di Nusantara yang harus didahulukan adalah memenuhi kebutuhan dasar manusia daripada langsung mengajarkan apa itu Islam.

Sebenarnya sejak abad ke-7 M, masyarakat Nusantara telah dipengaruhi oleh ajaran agama Hindu dari India. Namun bagi masyarakat yang telah memiliki hubungan sangat erat dengan budaya mereka, perubahan keyakinan Animisme ke Hindu tidak terlalu banyak membawa perubahan yang berarti. Kepercayaan Animisme tetap kekal meskipun secara formal mereka telah beragama lain. Nusantara sejak abad ke-13 diwarnai oleh konsep Hindu atau sebelumnya telah dipenuhi konsep dewa-raja. Konsep dewa-raja meyakinkan masyarakat bahwa raja adalah orang istimewa dan memiliki unsur-unsur keistimewaan serta kemuliaan tertentu yang terpilih. Manusia terpilih harus diterima sebagai raja dan berhak serta layak menduduki tempat tertinggi dalam masyarakat. Kelayakan menduduki tempat tertinggi ini dilegitimisasi oleh kepercayaan bahwa raja adalah penjelmaan dari dewa yang dalam agama Hindu setaraf dengan Tuhan (Maharsi, 2011: 227).

Kehadiran agama Islam dalam kehidupan masyarakat Nusantara sama sekali tidak menghapus yang berkaitan dengan konsep dewa-raja. Bahkan dalam beberapa segi, Islam terlihat menguatkan lagi pengesahan kedudukan raja itu dengan sedikit perubahan. Raja-raja tidak lagi berasal dari para dewa tetapi merupakan khalifah atau wakil Allah di dunia. Mereka memiliki gelar sebagai bayangan Allah dan berperan memberi perlindungan kepada masyarakat. Raja tetap merupakan orang terpilih karena memiliki sifat-sifat yang lebih daripada manusia biasa. Di samping itu ia memiliki kuasa-kuasa yang khusus dianugerahkan Allah kepadanya. Keyakinan yang muncul melalui agama Hindu tentang kedudukan raja di masyarakat, diperkukuh lagi dengan diperkenalkannya istilah sultan.

Hal ini menandakan bahwa Islam Nusantara telah berhasil menginterpretasikan istilah Islam rahmatan lil alamin dengan sempurna. Islam yang berguna tidak hanya kepada penganutnya, melainkan bagi seluruh ciptaan. Menyebarkan agama bukan berarti menjajah tradisi yang telah ada sebelumnya, melainkan mengingatkan bahwa ada agama yang benar. Islam yang diciptakan sebagai bekal kehidupan manusia inilah yang dimaksud dengan Islam rahmatan lilalamin atau agama yang diperuntukkan bagi seluruh umat manusia. Karena konsep kemanusiaan yang tidak memandang secara parsial harkat dan martabat umat manusia, baik secara individu maupun kelompok.

Memahami Sejarah

Sebagian besar umat Islam di belahan dunia memahami dengan baik bahwa Islam adalah agama yang membawa perdamaian. Penerimaan Islam di seluruh wilayah Nusantara terkesan damai karena disebarkan malalui cara-cara yang sangat adaptif, antara lain dengan mengadopsi dan mempertahankan adat-istiadat penduduk setempat, menguasai bahasa masyarakat setempat dan membebaskan budak-budak belian (Arsyad, 2006: 107). Oleh karena itu, tidak mengherankan jika agama Islam pada umumnya menembus wilayah pedalaman dengan cara-cara damai.

Secara lahir, perjalanan dakwah yang telah tercatat dalam sejarah tentunya sangat tidak relevan dengan kondisi sekarang, namun yang harus dihidupkan kembali dalam peradaban modern ini adalah nilai-nilai dakwahnya, yang lebih mengedepankan pembangunan dan keterbukaan daripada pemaksaan, apalagi kekerasan. Untuk zaman modern ini, para pendakwah –di Indonesia- yang lebih mengedapankan memberi pemahaman tentang keimanan walau harus dengan ujung pedang dan cenderung mengabaikan keamanan adalah pendakwah yang buta akan sejarah. Bagi manusia, keamanan adalah segalanya.

Penulis adalah mahasiswa Program Studi Aqidah dan filsafat Fakultas Ushuluddin dan pemikiran islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Sebagian besar umat Islam di belahan dunia memahami dengan baik bahwa Islam adalah agama yang membawa perdamaian. Penerimaan Islam di seluruh wilayah Nusantara terkesan damai karena disebarkan malalui cara-cara yang sangat adaptif, antara lain dengan mengadopsi dan mempertahankan adat-istiadat penduduk setempat, menguasai bahasa masyarakat setempat dan membebaskan budak-budak belian (Arsyad, 2006: 107). Oleh karena itu, tidak mengherankan jika agama Islam pada umumnya menembus wilayah pedalaman dengan cara-cara damai.

Secara lahir, perjalanan dakwah yang telah tercatat dalam sejarah tentunya sangat tidak relevan dengan kondisi sekarang, namun yang harus dihidupkan kembali dalam peradaban modern ini adalah nilai-nilai dakwahnya, yang lebih mengedepankan pembangunan dan keterbukaan daripada pemaksaan, apalagi kekerasan. Untuk zaman modern ini, para pendakwah –di Indonesia- yang lebih mengedapankan memberi pemahaman tentang keimanan walau harus dengan ujung pedang dan cenderung mengabaikan keamanan adalah pendakwah yang buta akan sejarah. Bagi manusia, keamanan adalah segalanya. (nu.or.id)

Adi Candra Wirinata

Mahasiswa Program Studi Aqidah dan Filsafat Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)