Opini & Budaya

Cerpen: Memahami Perasaan Zul

satelit post | Minggu, 05 Juli 2015 - 22:33:09 WIB | dibaca: 277 pembaca

Oleh: Marliana Kuswanti

 

ZUL merasa akhir-akhir ini malaikat-malaikat senang sekali bersarang di rumahnya. Zul tak keberatan tentang itu. Memang sudah seharusnya kan setiap manusia dikawal malaikat di kanan dan kirinya? Masalahnya, Zul tak tahu malaikat-malaikat yang akhir-akhir ini senang bersarang di rumahnya itu malaikat jenis apa. Zul menggambarkannya sebagai malaikat-malaikat berwajah peri. Ah, peri. Di kepala Zul barangkali peri sama dengan malaikat. Sedang bagiku, peri itu terdengar kekanak-kanakan sekali selagi malaikat religius sekali. Dan aku tak bisa membayangkan perpaduan keduanya. Kanak-kanak yang religius atau religius tapi kanak-kanak. Pasti seperti bocah berwajah tua.

 

Dulu, dulu sekali, Zul pernah menyebutku sebagai gadis berwajah peri. Oh, jangan-jangan malaikat-malaikat yang Zul ceritakan bersarang di rumahnya itu tak lain hanyalah bayang-bayangku! Ah, aku bahkan tak pernah tersanjung dengan pujian wajah peri Zul. Peri kadang terdengar kekanak-kanakan tapi tak jarang juga beraroma kematian. Aku takut kematian. Tak terlalu takut sebenarnya, tapi jelas tak siap dalam waktu-waktu dekat. Itu sebab aku tak pernah memperpanjang pembicaraan jika Zul telah berbicara tetang wajahku yang wajah peri. Di matanya. Aku bahkan telah yakin sejak dulu kala ada tipuan yang bermain di kedua mata Zul.

 

Zul mengerang. Erangan Zul pertanda ia merasa sedang dikerubuti malaikat-malaikat berwajah perinya. Banyak, banyak sekali. Zul bilang ia tak pernah enggan untuk menyapa dan berbincang dengan para malaikat itu. Tapi malaikat-malaikat itu kadang begitu agresif dan seketika mengerubutinya hingga begitu rapat, menyerupai kepungan, dengan Zul di tengahnya. Bila sudah demikian, Zul merasa risih. Ia tak cuma mengerang. Kedua tangannya akan menjulur-julur ke segala arah, seolah menangkis para malaikat berwajah perinya agar tak semakin merapat. Sampai di sini aku selalu tak paham, malaikat macam apa yang senang menjadikan anak manusia sebagai tumpeng? Bukankah jika mengikuti cerita Zul, Zul jadi mirip sekali tumpeng ulang tahun yang dikerubuti bocah-bocah atau malah gunungan keraton yang siap diperebutkan? Untuk apa?

 

Aku sudah berulang kali bilang pada Zul, tak usah menjadi pahlawan kesiangan dalam hidupku. Hidup bersamaku tak akan pernah mudah. Dahi Zul begitu suci. Suci sekali hingga satu-satunya noda yang melekat di sana hanyalah sepasang hitam-hitam serupa bulatan tapi tak terlalu bulat sesungguhnya. Hush! Itu bukan kotoran. Itu justru pertanda kian sucinya dahi seorang Zul. Sedang aku, aku pulang tak pernah tak membawa bekas cupangan. Satu dua itu hanya tingkah sepasang remaja yang baru senang-senangnya pacaran. Tapi aku berpuluh. Beratus mungkin sebab tidak mudah menghitungnya satu-satu selagi beberapa bulatan merahnya terlalu bersisian hingga aku yakin yang satu menumpuk dengan yang lain. Bahkan yang lama belum sepenuhnya pudar pun telah ditimpa yang baru. Itulah aku.

 

Orang bilang aku jalang. Aku sih iya-iya saja. Tapi Zul bilang aku tak jalang. Aku hanya anak manusia berkelamin perempuan yang berangkat dari suatu rumah lantas tersesat di tengah jalan. Sepanjang aku pulang dengan membawa cupang-cupang, selama itu pulalah aku tersesat di jalan. Tapi Zul yakin melebih-lebihi yakinku, suatu saat aku akan menemukan jalan pulang. Zul membaca kerutan di antara dua alisku. Lalu Zul bilang kesucianku tergambar dari wajah periku itu. Masih katanya, peri akan selamanya peri. Bersayap, bertanktop atau berdaster sekalipun, peri tetaplah peri. Tidak ada yang salah dari peri yang sesekali ganti baju. Aku sih iya-iya saja.

 

Zul tahu aku milik semua orang. Di saat yang sama aku tak habis pikir mau-maunya Zul menasbihkan diri hanya menjadi milikku, selamanya pula. Oh, aku sungguh-sungguh tak tahu cara menyenangkannya. Tapi aku tahu cara mengecewakannya. Maka ketika kujawab ‘terserah kau sajalah’, senyum seluas angkasa terbayang di wajah Zul. Pada saat yang sama aku bahkan merasa tak perlu memiliki apapun. Tidak tubuhku sendiri, tidak lembar-lembar uangku makanya lembar-lembar uang itu begitu mudah melesat dari dompetku sebanyak yang kudapatkan setiap malam, apalagi memiliki Zul. Lagi-lagi, untuk apa?

 

Zul tahu aku lebih menyukai kesenangan daripada dirinya. Jika Zul pernah berpikir ia dapat menjadi ladang kesenangan bagiku di kemudian hari selepas permintaannya yang mengiba untuk menikahiku kukabulkan, lebih dari sekedar keliru, ia salah sekali. Apa yang dapat kusukai dari Zul? Nafkah lahir? Aku bisa mendapatkannya jauh lebih banyak dalam tempo yang lebih cepat. Aku tahu Zul telah membanting-banting tulangnya sedemikian rupa setiap hari, setiap pekan, setiap bulan. Bahkan setiap hembusan napasnya. Tapi bahkan yang sudah sedemikian rupa itu tak berarti banyak untukku. Terlalu sedikit malah.

 

Zul bekerja di setiap hembusan napasnya. Tapi tidak setiap hembusan napasnya menjadi uang. Sedang aku, terengah saja jadi uang. Tersengal apalagi. Makin sering terengah dan tersengal lebih-lebih. Menggelinjang, aku dapat segalanya. Jadi jangan bertanya apakah aku menerima nafkah lahir dari seorang Zul. Ya, aku menerimanya. Seperti yang kubilang, aku tak tahu cara menyenangkannya tapi aku tahu betul cara mengecewakannya. Sebatas itu dan itu tak berarti apa-apa.

 

Jika suatu waktu Zul berubah pikiran dan memintanya kembali, aku bahkan sanggup menyertainya dengan bunga tiga puluh persen per tahun atau per bulan sekalian. Tanpa perlu Zul menyebutku dermawan. Tentu saja. Aku tak butuh sebutan apapun selain gadis berwajah peri dari Zul dan jalang dari orang-orang. Tapi jujur saja, aku lebih nyaman dengan yang terakhir. Terdengar lebih apa adanya, tak mengada-ada, sederhana, dan lebih mudah dimengerti. Jalang ya jalang saja. Tapi gadis berwajah peri? Mungkin hanya Zul dan para pujangga saja yang tahu.

 

Sedang nafkah batin? Oh, ayolah. Seorang Zul mana sebanding dengan yang sejenis Zul beberapa orang sekaligus dalam semalam? Kadang bahkan sampai sesiang bila tulang-belulangku tak keburu serasa terserak sekujur ranjang.

 

Orang bilang, aku sangat beruntung mendapatkan Zul. Zul bilang, ia yang sangat beruntung mendapatkanku. Omong kosong! Yang menguntungkan jelas cuma jual beli lenguhan! Bukan aku mendapatkan Zul, apalagi Zul mendapatkanku. Itu sungguh-sungguh kemalangan. Aku mengakuinya. Kemalangan yang Zul paksakan menjadi keberuntungan meski jelas-jelas Zul tak tahu cara mengubahnya.

 

Awalnya, Zul tak memberi rentang waktu. Bila kutahu Zul macam penagih utang bank plecit, tentu tak akan kupenuhi permintaannya untuk menikahiku betapapun mengibanya ia. Tapi lama-lama, Zul memberi tenggat. Katanya, itu terkait tanggung jawabnya sebagai suami, mengemban misi untuk istri. Masalahnya, pernikahan tak serta-merta membuatku merasa menjadi istri seseorang. Aku bukan bagian dari jenis perempuan yang keranjingan mengumbar status ‘menikah’ di sosial media. Aku bukan perempuan yang lantas mengganti foto profil akun-akunku dengan foto sepasang cincin saling bertaut. Aku bahkan menutupinya. Sejauh yang kudapat. Dengan sengaja. Meski tamuku kerapkali tak masalah. Semua serba oke sajalah. Kadang tahu calon pelayannya sudah menjadi istri orang, dari suami yang baik-baik pula, malah meningkatkan rasa penasaran mereka, sensasi yang didapat, dan ujung-ujungnya uang yang kubawa pulang.

 

Kubawa pulang sebab sejauh ini aku tak sampai hati menjadikan Zul penonton aksiku. Aku tak terlalu mempertimbangkan perasaannya. Tentu saja. Selagi perasaanku sendiri tak kuketahui telah terbang ke mana. Hanya menghormati privasi tamu-tamuku yang tak sedikit di antaranya bukan sembarang kalangan. Ya, di kamus hidupku memang hanya ada keutamaan untuk para tamu. Bukan suami. Bukan, jelas sekali bukan.

 

Lantas dari yang mulanya rela, sebab ia telah bertekad menjadi pahlawan meski kubilang berulang kali kesiangan, Zul berubah menjadi merasa tersiksa. Kelelakiannya terluka. Katanya. Dan kata orang-orang yang bilang alangkah beruntungnya aku mendapatkan Zul. Ia mulai mengembangkan harapan-harapan yang menurutku konyol sekali. Setahun, dua tahun, selambat-lambatnya tiga tahun untukku bertobat. Oh, aku bahkan jarang sekali tahu letak dosaku. Sekalinya aku merasa tahu, sepengetahuanku dosaku hanyalah menjalani kehidupan yang tak sama dengan kehidupan yang dijalani kebanyakan orang lain. Itu saja.

 

Tapi justru karena yang begitu kan dunia ini kian semarak? Tak monoton, tak membosankan. Jika tak ada aku dan yang sepertiku, perempuan mana yang masih bisa merasa tersanjung disebut perempuan baik-baik? Tidak, tidak ada. Perempuan baik-baik hanya ada karena adanya perempuan sepertiku. Asal tahu saja. Perempuan tak baik atau apalah itu. Sekali lagi kubilang aku tak peduli dengan sebutan. Bila begitu, bukankah aku berjasa? Setidaknya tak dosa-dosa amat.

 

Menurutku. Tapi tidak menurut Zul. Aku ingat ketika rahang Zul membatu. Matanya mencari mataku tapi aku bilang aku terburu. Setiap orang ada dalam pencariannya masing-masing. Zul boleh mencari mataku tapi aku harus mencari peruntunganku dari seorang tamu baru yang konon katanya royal sekali. Saat aku pulang, Zul masih di tempat yang sama dengan saat aku pergi. Membeku di kursi, memandangiku dari ujung kaki sampai ujung kepala. Terhenti di beberapa bagian tubuhku yang terbuka dan menampakkan cupang-cupang merah segar. Yang terbuka saja jamak apalagi yang tersembunyi?

 

Mata Zul berkaca-kaca. Membuka bibir hanya untuk berkata dengan nada bergetar, “Kau masih saja tersesat, As. Kurasa orang-orang benar. Kau jalang. Bukan gadis berwajah peri.”

 

Oh, Zul, Zul. Berapa kali harus kubilang? Aku bahkan telah benar-benar lupa rasanya menjadi gadis. Bukan aku yang tersesat, Zul, tapi perasaanmu sendiri. Berangkat dari suatu rumah, tersesat di tengah jalan, dan suatu saat akan menemukan jalan pulang. Mungkin. Walau aku tak pernah menemukan papan petunjuk perasaan di jalan manapun.

 

Lalu esok paginya kudapati Zul mulai mengigau tentang malaikat-malaikat yang bersarang di rumahnya. Malaikat-malaikat berwajah peri. Oh, memang sukar memahami perasaan seorang Zul. Ngomong-omong, uang jajan dari tamu yang royal sekali itu cukuplah untuk tambahan mencicil Mercy. (*)

 

Surakarta, 28 Mei 2015

 

 

Marliana Kuswanti

Kini tinggal di Surakarta. Artikel-artikel psikologinya telah dimuat di Majalah Psikologi Plus. Cerita pendeknya telah dimuat di Tabloid Memorandum, Koran Merapi, Batam Pos, Harian Satelit Post, Story Teenlit Magazine, Majalah Ummi, Majalah Femina. Cerita bersambungnya telah dimuat di Majalah Femina dan menjadi juara 1 di Sayembara Cerber Femina 2013/2014. Telah menerbitkan buku cerita anak Semut Pesolek (Tiga Ananda, creative imprint of Tiga Serangkai) dan antologi Kisah Awal Menulis (AE Publishing).

 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)