Sorot

Air dan Kemarau

Magang Dua | Selasa, 18 April 2017 - 10:20:21 WIB | dibaca: 62 pembaca

Dulu, sebelum dibangun Jalan Lingkar Ajibarang, terdapat sebuah bilik air di dekat lapangan Desa Ajibarang Kulon, Kecamatan  Ajibarang yang biasa dipergunakan oleh sebagian warga. Airnya sangat jernih dan tak pernah kering sekalipun musim kemarau. Dan air nan jernih tersebut keluar dari akar pohon yang berdiri kokoh di sisi kanan dan kiri bilik air tersebut.

Warga yang butuh air dapat dengan bebas mengambil air alami tersebut secara gratis. Tanpa disadari keberadaan bilik air yang mungkin dianggap sebelah mata, dengan menganggap air PDAM pun masih tercukupi buat Mandi Cuci Kakus (MCK) di rumah,-namun tetap memberi manfaat yang luar biasa.

Sejak dibangun Jalan Lingkar Ajibarang dan lapangan Ajibarang Kulon dipindah beralih fungsi jadi pusat pertokoan Kios Gelora keberadaan bilik air alami tersebut turut musnah, karena dua pohon yang berdiri di dekat lapangan itu dipangkas habis tertutup semen dan aspal. Maka kini tak lagi dijumpai jernihnya air yang keluar dari akar pohon di tepi jalan kabupaten tersebut.

Hal ini sebagai gambaran kecil sebuah pembangunan yang menggusur kekayaan alam. Dan seperti itulah kekhawatiran para petani Kendeng, Rembang, Jawa Tengah dan aktivis lingkungan terkait berdirinya pabrik semen. Mereka sampai kini masih berjuang  agar pemerintah menghentikan pabrik semen tersebut, sebab berpotensi merusak karts pegunungan Kendeng yang diyakini memiliki sumber mata air. Zona kawasan Cekungan Air Tanah (CAT) Watupuih untuk pembangunan begitu ditakutkan merusak lingkungan.

Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) di kawasan lokasi proyek tersebut pun terus berlangsung. Mereka berharap KLHS dapat memberi kesimpulan yang adil, transparan sesuai fakta yang ada, tidak berpihak dan clear dari tekanan pihak manapun. Zona kawasan Cekungan Air Tanah (CAT) Watuputih di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah menjadi incaran sejumlah perusahaan tambang. Lokasi itu favorit untuk dijadikan bahan baku pabrik semen.

"Ada lima perusahaan besar menunggu, itu akan masuk. Jika ini masuk di CAT Watuputih semua, selesai sudah," kata Ketua Tim Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) San Afri Awang, di Rembang, Kamis (13/4) seperti diberitakan Tribunnews.com.

Bukan hanya pertanian yang terganggu, akan tetapi dampak kekeringan dapat menimbulkan gejolak sosial baru. Kaitan masalah air, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprakirakan, musim kemarau tahun 2017 di wilayah Indonesia, akan dimulai pada bulan Mei, Juni, atau Juli. Namun sepertinya tanda-tanda masuk musim  kemarau sudah terasa sekarang.

Suhu udara di Purwokerto mencapai 35 derajat celcius, kita sudah merasakan panas menyengat. Dan terbayang kemarau panjang tahun 2015 silam demikian dahsyat dimana-mana membutuhkan air bersih. Maka, perjuangan petani Kendneg, termassuk dari kaum perempuan nekat menyemen kaki dengan tujuan CAT Watuputih tetap terjaga lestari demi anak cucu sebagai bagian   dari perjuangan Kartini zaman modern.

Bagaimana meraka telah merawat alam tak ingin alam yang beri banyak manfaat diusik dan diganggu. Sementara bagi kita bersiaplah menghadapi musim kemarau, pergunakan air sehemat mungkin, dan biasanya kita baru sadar akan pentingnya air, yang dikala hujan demikian melimpah kita masih suka membuang percuma, dan ada baiknya pihak pemerintah maupun swasta mempersiapkan ketersediaan air bersih bagi warga. Semacam lumbung padi untuk mengatasi paceklik. Terutama di daerah daerah yang jadi langganan kekeringan. Dan tampaknya memelihara alam agar tetap lestari memang harus terus diperjuangkan. ([email protected])










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)