Sorot

Ahoker

Magang Dua | Rabu, 26 April 2017 - 10:02:05 WIB | dibaca: 32 pembaca

Pilkada Jakarta sudah usai tapi perdebatan seputar Ahok-Anies belum juga reda. Perdebatan ini seputar alasan di balik kekalahan telak Ahok dari Anies. Banyak pendukung Ahok (Ahoker) yang tidak terima dengan hasil Pilkada tersebut.

Ahoker sejati memandang Anies tidak punya alasan untuk menang. Anies hanya bisa menang karena strategi kotor rasis dan agama. Bagi Ahoker, si Anies ini tidak mampu menawarkan program apapun yang masuk akal.

Sejuta alasan Ahoker ini masih menyebar di jejering media sosial. Mereka sepertinya masih  belum mampu menerima takdir pahit itu. Mereka masih bertanya-tanya mengapa jagoannya bisa keok di Pilkada Jakarta

Bagi mereka yang pernah membaca catatan-catatan seputar Pemilu Orde Baru pasti tidak akan kaget dengan hasil Pilkada Jakarta. Kemenangan Anies atas Ahok kemarin tidak lebih dari pengulangan sejarah yang pernah terjadi di Jakarta.

Dalam sejarah Orde Baru, Jakarta adalah benteng terakhir partai-partai Islam menghadapi dominasi Golkar. Di provinsi itu Golkar yang didukung pemerintah, tentara, polisi, pengusaha kaya, dan kaum intelektual kesulitan memenangi Pemilu. Cara apapun sudah dilakukan, tapi warga di dua provinsi itu mayoritas tetap memilih hijau.

Masyarakat Jakarta dalam sejarahnya adalah muslim yang taat sekaligus fanatik. Mereka adalah pendukung utama PPP sebagai satu-satunya partai Islam yang ada di zaman Orde Baru. Fakta sejarah tersebut yang rupanya banyak dilupakan generasi-generasi hari ini.

Kesadaran warga Jakarta tentang agama sangatlah hebat. Meski digempur dengan modernitas, infrastruktur, kampus, dan kantor mewah, mayoritas warga Jakarta tetaplah Betawi. Mereka tetap militan mencintai agama dan tradisi leluhur.

Gambaran militansi muslim Jakarta bisa kita saksikan dalam gerakan-gerakan Front Pembela Islam (FPI). Pendukung-pendukung FPI merupakan warga Jakarta pinggiran yang terdesak pembangunan kota. Pembela-pembela FPI adalah warga Jakarta yang merasa harus berjuang mempertahankan identitas keislaman Betawi.

Masyarakat perkotaan Jakarta kekinian yang mengaku lebih modern tentu saja akan sangat sulit memahami fakta sejarah di atas. Kita sebagai generasi lulusan pendidikan sekuler juga tidak akan mampu menangkap semangat Islam sebagai sebuah identitas yang layak diperjuangkan. Jadi, sampai kapanpun kita tidak akan menemukan alasan masuk akal mengapa agama lebih dicintai warga Betawi dibanding lainnya.

Jadi, ketika mayoritas warga Jakarta memilih Anies hanya karena faktor agama, itu tidaklah mengagetkan. Pilihan itu sangatlah biasa, tidak dibuat-buat, tidak ada paksaan, dan tidak perlu diperdebatkan apalagi kita salahkan. Begitulah warga Betawi, kita tidak perlu menganggap mereka fanatik.

Kita tidak punya hak untuk menilai mereka intoleransi, rasis, apalagi menjual agama untuk kepentingan politik. Saya meyakini mereka sangat mencintai agama sama seperti kita yang mendewakan demokrasi. Jadi, hormatilah setiap pilihan.

Ketahuilah, muslim Betawi sudah ratusan tahun mengajarkan kita apa itu kebhinnekaan. Mereka bisa turun-temurun hidup rukun dengan suku-suku lain di Indonesia. Mereka juga tidak mempersoalkan latar belakang apalagi agama para pendatang. Jadi jangan lagi kita menuduh warga Jakarta (khususnya pendukung Anies) rasis.

Mari hentikan ketakutan-ketakutan itu. Para politisi di lokal, terutama Banyumas, tak perlu takut apa yang terjadi di Pilkada Jakarta juga akan terjadi di Pilkada Banyumas. Jakarta bukanlah Banyumas dan juga sebaliknya. (pranstiyanto_agust@yahoo.co.id)

Agus Setiyanto SSi

 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)