Opini & Budaya

Askesis

1 Korintus 9: 24-27

Magang Dua | Sabtu, 22 April 2017 - 10:18:46 WIB | dibaca: 26 pembaca

 

24 Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!

25 Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.

26 Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul.

27 Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak. (TB)

 

Kita tidak hanya cukup menjadi orang Kristen tapi harus bertumbuh dewasa di dalam Kristus seperti teguran Rasul Paulus kepada gereja di Korintus. Dan aku, saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani, tetapi hanya dengan manusia duniawi, yang belum dewasa dalam Kristus. Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarangpun kamu belum dapat menerimanya. Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi? (1 Kor 3:1-3). Menjadi orang Kristen berarti menjadi manusia rohani (to be a spiritual man) dan menjadi manusia rohani berarti bukan menjadi manusia duniawi melainkan bertumbuh menuju kedewasaan dalam Kristus. Rasul Paulus menulis kepada gereja di Efesus, “… sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak, … tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala” (Efe 4:13-15).

 

Manusia duniawi diibaratkan anak kecil yang masih harus diberi susu bukan makanan keras dan sifat atau tabiat mereka tentu masih kekanak-kanakan. Sedangkan manusia rohani adalah mereka yang telah meninggalkan sifat kekanak-kanakan tersebut, makan makanan keras, dan bertumbuh dewasa ke arah Kristus. Anthony Coniaris di dalam bukunya Philokalia: The Bible of Orthodox Spirituality, menulis, “To be mature in Christ means in its negative aspect to put away childish things: self-centeredness, insistence on having one’s own way, anger, blaming others, envy, jealousy. To be a mature Christian in its positive aspect means to be more and more like Christ. Merely growing up is not enough. We are to grow up into something that is perfectly mature, and that for us Christians, is Christ. “Be ye perfect as I am perfect,” said Jesus. Lecomte du Nouy, the French physicist, once wrote, “The perfect man is not a myth: he has lived in Christ.” To be mature is to grow by the power of the Holy Spirit more and more like unto that perfect man: Jesus. “That you may grow up in all things into Him who is the head, even Christ” (Ephesians 4:15). To be mature in Christ is part of what it means to be spiritual. It is a life-long task that is accomplished by the Holy Spirit through daily repentance.” Menjadi manusia rohani atau to be spiritual adalah terus bertumbuh di dalam Kristus dan meninggalkan sifat kekanak-kanakan. Coniaris menyatakan, “To be spiritual is to keep growing in love and understanding, to keep casting off the old and putting on the new in Christ. You are only young once, but you can stay immature indefinitely. To remain immature is to be unspiritual. Spirituality implies growth toward maturity in Christ.”

 

Manusia rohani adalah dia yang seperti kata Coniaris, “The person who is mature in Christ is not the person who goes through life expecting to receive love, like a child, but the person who gives love. The person who is mature in Christ is the person who understands, who forgives, who accepts responsibility for his failures, who disciplines himself, who is humble, realizing that without God he is nothing.” Bagaimana kita menjadi manusia rohani? Kita belajar dari Rasul Paulus yakni dengan jalan askesis yakni disiplin atau latihan rohani yang dia sebut “pressing on toward the mark for the prize of the high calling of God in Christ Jesus” (Fil 3:14). Pressing on atau berlari dengan segenap kekuatan untuk memperoleh hadiah yakni panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. Tidak heran Rasul Paulus begitu jerih lelah dan bekerja berat, kerap kali dia tidak tidur, lapar dan dahaga, kerap kali dia berpuasa, kedinginan, dan tanpa pakaian (2 Kor 11:27-28). Dia adalah seorang pelayan Kristus yang lebih menderita, lebih banyak berjerih lelah, lebih sering di dalam penjara, menanggung pukulan di luar batas, kerap kali dalam bahaya maut baik di laut maupun di darat (2 Kor 11:23-26). Rasul Paulus adalah manusia rohani dan dia seorang askestis dan itu semua adalah untuk meraih hadiah yakni panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. Tidak heran dia menggambarkan askesis itu ibarat pertandingan di gelangang olahraga dan kita yang adalah manusia rohani seperti olahragawan yang bertanding menurut peraturan-peraturan olah raga untuk memperoleh mahkota sebagai juara dan mahkota itu adalah mahkota abadi (2 Tim 2:5; 1 Kor 9:24-25).

 

Seorang asketis adalah mereka yang bertanding dengan menuruti peraturan-peraturan sehingga tidak sembarangan bertanding.Sebab itu mereka berlatih dan disiplin. Mereka menguasai dirinya dalam segala hal, melatih tubuhnya dengan disiplin (terjemahan NKJV, “I discipline my body and bring it into subjection” (1 Kor 9:27)). Askesis melatih tubuhnya ini menjadi kudus sebab kita adalah bait Allah yang kudus (1 Kor 3:17; 1 Pet 1:16) sehingga kita harus mati terhadap dosa, supaya kita hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus (Rom 6:11). Askesis melatih tubuh ini supaya kita menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya (Gal 5:24). Askesis melatih tubuh ini supaya hati dan pikiran menjadi murni dan suci (Mat 5:8).

 

Apa latihan askesis ini? Ada cakupan yang cukup luas yang diajarkan oleh para Bapa Gereja St. Irenaeus melihatnya sebagai latihan berpuasa untuk melawan nafsu kedagingan. St. Cyril of Jerusalem melihatnya sebagai latihan berdoa untuk terus memurnikan hati dan pikiran. St. Jerome melihatnya sebagai latihan kemurahan hati terhadap orang miskin dan hidup dalam kesederhanaan atau kemiskinan untuk melawan ketamakan dan keserakahan. Menurut St. John Chrysostom askesis berarti melatih diri dalam kebajikan, menolong orang miskin, tekun membaca Kitab-kitab Suci, dan teratur menerima sakramen Perjamuan Kudus. Rasul Paulus juga menuliskan, “Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu dalam kesalehan. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi kesalehan itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang” (1 Tim 4:7-8). Berlatih diri dalam kesalehan juga merupakan sikap hidup askesis yang harus kita kerjakan. Latihan askesis ini melatih tubuh, pikiran, dan jiwa kita sehingga kita dapat mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah (Rom 12:1). Latihan askesis kita bukanlah dengan cara menyiksa tubuh kita sendiri secara ekstrim karena tubuh ini adalah bait Allah yang kudus dan persembahan kita kepada Allah.

 

Latihan askesis akan membawa kita kepada suatu pengertian bahwa bukan kesalehan rohani yang mampu menyelamatkan kita namun hanya kasih karunia Allah saja. Latihan rohani tidaklah membuat seseorang menjadi sombong atau bermegah pada tingkat kerohaniaan tetapi semakin membuat orang itu bertambah dewasa menjadi manusia rohani sehingga menyadari bahwa diri mereka makin kecil dan Allah makin besar (Yoh 3:30). Latihan askesis tidak membawa kita pada sikap menghakimi orang lain sehingga menjadi batu sandungan melainkan melihat setiap orang membutuhkan kasih karunia Allah dan kita terpanggil untuk melayani mereka (Rom 14:13). Latihan askesis adalah respons kita terhadap kasih karunia Allah yang menyelamatkandan merupakan karya atau pekerjaan Roh Kudus. Rasul Paulus menuliskan, “Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh (Gal 5:24-25). Latihan askesis akan mendatangkan manfaat jika itu dipimpin oleh Roh Kudus.

 

Kata kunci dari askesis ini adalah latihan. Coniaris menuliskan, “What makes a man a good athlete? Practice. What makes a man a good artist, a good sculptor, a good musician? Practice. What makes a man a good linguist, a good stenographer? Practice. What makes a good man? Practice. Nothing else. There is nothing capricious about religion...If a man does not exercise his soul, he acquires no muscle in his soul, no strength of character, no vigor of moral fibre, no beauty of spiritual growth. Love is not a thing of enthusiastic emotion. It is a rich, strong, manly, vigorous expression of the whole round Christian character—the Christ-like nature in its fullest development. And the constituents of this great character are only to be built up by ceaseless practice. “Therefore, must endure hardness as a good soldier of Jesus Christ,” writes St. Paul (2 Tim. 2:3).” Mari kita terus melatih diri kita untuk mematikan dosa di dalam diri kita dengan ikut menderita sebagai seorang prajurit dan olahragawan yang baik dari Kristus Yesus. Amin!(*)

Hendi SS MTh

Dosen Exegesis PB

STT Soteria Purwokerto   










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)